Fariss Febrian, Anak Pedagang Jalanan Jadi Lulusan Terbaik FH Unnes
Utama

Fariss Febrian, Anak Pedagang Jalanan Jadi Lulusan Terbaik FH Unnes

Trauma masa kecil membawa Fariss pada pilihannya menjadi sarjana hukum. Dia ingin menguasai ilmu hukum agar tak mudah dibodohi, dan mengangkat derajat keluarga yang selama ini kerap dipandang sebelah mata.

Fitri Novia Heriani
Bacaan 3 Menit

Fariss yang berasal dari keluarga tidak mampu, dituding sebagai pencuri di sekolah. Dia dituduh mengambil uang milik salah satu guru. Fariss mencoba membantah tuduhan yang tidak memiliki bukti yang cukup itu, meskipun dia tahu pembelaan diri tersebut sia-sia. Sejak saat itu, Fariss mendapatkan stigma buruk di lingkungan sekolah, dan cap sebagai pencuri tersebut terus melekat pada dirinya hingga menamatkan sekolah. 

Fariss mengaku jika peristiwa itu meninggalkan trauma. Tekadnya untuk menjadi bagian dari hukum semakin kencang. Dia tak mau dibodohi, tak mau terus direndahkan karena status ekonomi keluarganya.

“Kayak trauma padahal saya tidak ambil apa-apa, tapi seakan-akan dikambinghitamkan. Dan tidak tahu kenapa saya bertekad harus belajar banyak tentang hukum, tidak mau dibodoh-bodohi, mau jadi orang hukum yang mencerdaskan. Kita harus belajar hukum agar kita tidak dipermainkan,” tuturnya. 

Kepada Hukumonline, Fariss menjelaskan bahwa dirinya berasal dari keluarga yang kekurangan. Kedua orang tuanya merantau dari Padang ke Subang. Ayahnya adalah seorang pedagang serabutan, berjualan di pinggir jalan ke pinggir jalan lainnya, pernah membuka jasa pangkas rambut juga di pinggir jalan. Sementara ibunya hanya seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) biasa, yang kini sudah berpulang. 

Melihat kondisi ekonomi keluarganya, Fariss sadar bahwa berkuliah di perguruan tinggi seperti mimpi yang sulit digapai. Namun di sisi lain, dia tak mau terus terjebak dalam lingkaran kemiskinan. Dia ingin mengangkat derajat kedua orang tuanya, mambangkik batang tarandam, dalam pepatah Minangkabau. Apalagi di dalam keluarga besarnya, gelar sarjana hanya dimiliki oleh segelintir orang saja. 

Demi sampai pada tujuannya, Fariss pun belajar dengan tekun. Dia menjadi salah satu siswa berprestasi di sekolah, dan terus memaksimalkan potensinya lewat kegiatan berorganisasi, mengikuti lomba debat dan sebagainya. Hingga akhirnya takdir membawanya pada ujung pengharapan. Fariss dinyatakan lulus di FH Unnes dan mendapatkan beasiswa penuh dari pemerintah. 

“Saya kuliah full beasiswa, mengandalkan prestasi. Ayah saya hanya pedagang jalanan. Keluarga kami sangat sederhana tapi dari dulu berfikir walaupun sederhana tidak boleh di masa depan jadi orang yang gitu-gitu aja, pengen berkembang, kami sering direndahkan,” ungkap Fariss. 

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info