Ia menggariskan perlunya kerja sama dari para pemangku kepentingan (stakeholder) untuk melakukan edukasi dan sosialisasi dalam hal kesehatan jiwa anak. Di samping itu, pemerintah juga mengedepankan sosialisasi dan deteksi dini sekaligus pencegahan agar tidak terjadi dampak lanjutan terhadap anak.
“Kita mencoba menyelesaikannya sedini mungkin, jadi di hulu. Tadi juga ada data yang memperlihatkan keinginan untuk bunuh diri, berpikir dan mencoba, ini terjadi terutama karena masalah di keluarga. Kemudian yang kedua adalah masalah bullying, ini bisa terjadi di sekolah, bisa di luar sekolah karena melihat media sosial,” jelas Menkes Budi Gunadi Sadikin.
Pemerintah dalam hal ini menyadari alarm kesehatan mental anak dengan meningkatnya angka siswa yang berpikir dan mencoba untuk mengakhiri hidup dalam tujuh tahun terakhir. Pernyataan itu didasarkan pada data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) pada 2015 dan 2023.
Hal ini menjadi dorongan bagi pemerintah melalui kesembilan kementerian dan lembaga untuk segera mengambil tindakan. Terlebih, berdasarkan data yang dikompilasikan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2023-2025, tercatat anak di usia 11-17 tahun menjadi kelompok usia paling tinggi yang mengakhiri hidup.
Bahkan bila diperbandingkan antara data KPAI dengan laporan kesehatan mental berbasis daring Kemenkes Healing119.id, dijumpai fakta bahwa faktor utama pemicu keinginan bunuh diri pada anak dominan disebabkan oleh pengasuhan dan konflik keluarga dengan persentase 24%-46%, kemudian perundungan dengan 14%-18%, masalah psikologis 8%-26%, dan tekanan akademik sebesar 7%-16%.
“Yang terutama adalah simpul keluarga karena ini yang paling besar persentasenya. Itu sebabnya kenapa diajak juga Mendukbangga, Menteri Sosial, Menteri Agama untuk memastikan bahwa keluarga ini kita perbaiki gaya hidupnya agar bisa memberikan lingkungan yang lebih baik bagi anak-anak,” ucap Budi.
Penetapan SKB tentang Kesehatan Jiwa Anak di Jakarta ini menjadi salah satu upaya pemerintah dalam menindak berbagai isu yang dialami anak, mulai dari rumah tangga hingga ranah sekolah. Pemerintah berkomitmen untuk memastikan upaya edukasi, sosialisasi, dan pencegahan pada sekolah-sekolah terus didorong melalui Kemendikdasmen dan Kemenag.
















