Sebagian kalangan menekuni bidang hukum karena termotivasi hal tertentu. Itulah yang dialami wisudawan terbaik Fakultas Hukum (FH) Universitas Hasanuddin (Unhas) periode Mei 2024, Isdarma Sahyan. Pria yang meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98 itu berminat untuk menempuh studi hukum sejak duduk di bangku SMP.
Dia termotivasi mendalami bidang hukum karena jengah melihat praktik penegakan hukum yang buruk. Isdarma berharap dengan menekuni bidang hukum dia bisa berkontribusi membenahi persoalan bidang hukum yang ada selama ini.
“Saya bertekad untuk melawan praktik buruk penegakan hukum. Dengan menempuh studi hukum menjadi salah satu cara saya mewujudkan tekad tersebut,” katanya kepada Hukumonline, Jumat (17/12/2024).
Setelah menjalani program studi sarjana hukum selama 3 tahun 7 bulan Isdarma berkesimpulan pemikiran hukum semakin terus berkembang. Pemenuhan rasa keadilan dan kesejahteraan masyarakat menjadi tujuan akhir dari beberapa pemikiran hukum saat ini.
Baca juga:
- Mukaromah, Lulusan Terbaik FH Unhas Berniat Jadi ASN di Lingkungan Peradilan
- Sisilia dan Nicolas, Lulusan Terbaik FH UNPAR Mantap Pilih Profesi Lawyer
- Florence Hermawan, Wisudawati Terbaik FH UPH Bakal Jadi Trainee Associate di Kantor Hukum Ternama
Idealnya hukum harus berjalan seiring perkembangan masyarakat. Mengutip Satjipto Rahardjo, jika hukum tidak bisa menyesuaikan dengan perkembangan maka akan tertatih dan sulit mencapai keadilan dan kesejahteraan masyarakat sebagai tujuan utama dari hukum.
Sebagai orang yang belajar hukum, wajib mempelajari segala aspek hukum.
Tapi Isdarma paling berminat pada hukum pidana. Alasannya, konsep pidana menarik untuk didalami. Selain itu hukum pidana terus mengalami perkembangan sehingga menarik untuk dipelajari.
Isdarma mengutip Prof H.A Zainal Abidin Farid, dalam buku “Hukum Pidana” yang menyebut pidana hadir sebagai sarana untuk menyatukan masyarakat yang terpecah belah, sebagai penyuci negara dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Serta tempat berlindung bagi para pencari keadilan. Hal itu yang menggugah Isdarma untuk menyelami hukum pidana.
Tetap konsisten pada pendiriannya untuk berkontribusi membenahi praktik hukum, Isdarma berkeinginan untuk berprofesi sebagai advokat. Dengan menjalankan tugas sebagai advokat dia berharap bisa membantu masyarakat untuk mencapai tujuan akhir hukum yakni keadilan.
Walau pun tidak mudah menjadi advokat apalagi sebagian pandangan menilai sebelah mata profesi advokat, tapi perlu ada sosok yang tegak berdiri dan berjalan lurus untuk membangun hukum yang lebih baik. Seperti almarhum hakim agung Artidjo Alkostar.
Cara mencapai IPK tinggi
Isdarma berbagi cara untuk mencapai IPK tertinggi yakni membaca dan berdiskusi. Perbanyak bacaan dari berbagai literatur sebab itu syarat untuk mendalami ilmu hukum. Mengutip Oliver Wendell Holmes, “peradaban akan terhenti jika pembaca terakhir berhenti membaca”.
Kendati mampu meraih IPK hampir sempurna, Isdarma menghadapi berbagai tantangan dalam menempuh program studi sarjana hukum. Paling penting mencari cara untuk menghadapi tantangan itu dan jangan pernah patah semangat untuk menggapai cita-cita. Apalagi teringat perjuangan orang tua yang banting tulang membiayai pendidikan sarjana.
Sebagai anak desa yang berasal dari daerah Buton, Sulawesi Tenggara, Isdarma sangat bangga mampu kuliah di FH Unhas sebagai salah satu kampus terbaik di Indonesia. Kesempatan emas itu memicunya untuk tetap semangat menjalani masa studi.
Untuk membantu mengerjakan tugas-tugas kuliah, Isdarma sangat terbantu layanan yang tersedia di Hukumonline. Berita yang ditayangkan Hukumonline selama ini sangat membantunya memahami perkembangan hukum di Indonesia.
“Hukumonline selama ini menjadi penerang atas ketidaktahuan saya selama menempuh studi hukum. Informasi hukum yang diberitakan Hukumonline membantu saya memahami beragam isu hukum,” tutupnya.
















