Karena Bahasa Hukum adalah Bahasa, Bukan Hukum
OPINI

Karena Bahasa Hukum adalah Bahasa, Bukan Hukum

Bahasa hukum bukan tujuan dari hukum itu sendiri. Bahasa hukum tetaplah bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.

•Bacaan 6 Menit
YI
Penulis Opini

H.L.A. Hart menjelaskan dalam bukunya The Concept of Law (1961) bahwa "The open texture of law means that there are, indeed, areas of conduct where much must be left to be developed by courts or officials striking a balance, in the light of circumstances, between competing interests which vary in weight from case to case. None the less, the life of the law consists to a very large extent in the guidance both of officials and private individuals by determinate rules which, unlike the applications of variable standards, do not require from them a fresh judgment from case to case.”

Yosea Iskandar. Foto: Istimewa
Yosea Iskandar. Foto: Istimewa

Pandangan ini mengakui bahwa sekalipun sistem hukum sangat bergantung pada aturan yang jelas dan pasti, selalu ada wilayah ambigu yang memerlukan penilaian dan interpretasi. Hal ini diperlukan agar hukum tetap dapat beradaptasi, mampu menanggapi tantangan baru, dan menjaga rasa keadilan dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Pembahasan dalam suatu acara yang dibuat oleh Hukumonline beberapa waktu lalu mengenai penulisan hukum populer mengingatkan saya kembali pada pandangan tersebut.

Baca juga:

Dihadiri oleh para praktisi hukum, semua pertanyaan yang dikemukakan penting untuk disimak dan amat menarik perhatian. Beberapa pertanyaan membuat saya berpikir ulang mengenai esensi penulisan hukum populer. Salah satunya adalah bagaimana kita menjelaskan persoalan hukum yang biasanya terkait dengan teks atau konsep yang rumit dengan cara sederhana.

Sekalipun konsep hukum dipenuhi oleh pakem dan terminologi, bahasa hukum bukan tujuan dari hukum itu sendiri. Bahasa hukum tetaplah bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi. Baik komunikasi dari pembuat undang-undang kepada publik, hakim kepada terdakwa, pengacara kepada klien, maupun in-house counsel kepada manajemen perusahaan. Satu konsep yang sama dapat disampaikan secara berbeda tergantung penuturnya dan siapa targetnya, tanpa harus mengubah makna. Demikian juga halnya dengan tulisan dalam artikel hukum populer, persoalan hukum dapat dituangkan dalam kata-kata yang mudah dipahami tanpa menghilangkan esensi.

Oleh karena itu, penulis artikel hukum populer juga tidak perlu terikat untuk menyalin teks hukum kaku dalam tulisannya. Penulis dapat menguraikan pemahamannya atas esensi aturan yang ingin dikomentari, termasuk mengemukakan pendapatnya mengenai persoalan yang dihadapi dalam bahasanya sendiri. Jika diuraikan dengan sederhana, hukum harus lebih dapat dimengerti oleh semua orang, tidak dimonopoli oleh para profesional di bidang hukum. Berikut ini penulis akan menguraikan lebih dulu sejumlah hal tentang menulis artikel hukum populer.

Bukan Sekadar Tuntutan Pekerjaan

Apa yang saya bagikan dalam acara tersebut tidak lepas dari profesi saya sebagai in-house counsel. Seorang in-house counsel diharapkan mampu memberikan nasehat hukum bagi perusahaan mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan usaha perusahaan. Baginya, penelitian hukum harus bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik atas suatu persoalan atau isu yang dihadapi. Jadi, sama sekali bukan sekadar memberikan jawaban cepat kepada perusahaan atau memenuhi persyaratan pekerjaan. Menuliskannya adalah cara untuk menuangkan gagasan, menjelaskan apa yang diketahui, dan berkomunikasi.

Misalnya jika perusahaan bergerak dalam bidang perbankan, bukan hanya ketentuan perbankan yang harus dipahami tetapi juga ketentuan dalam sektor usaha nasabah bank. Sebagai contoh adalah saat bank ingin memberikan pembiayaan ke dalam sektor industri atau segmen pasar tertentu. Tanpa mengetahui ketentuan sektoral yang ada, akan lebih sukar bagi bank untuk mengukur risiko hukum yang timbul dari pemberian kreditnya dalam sektor terkait. Sementara itu, tanpa pengukuran risiko yang akurat tidak dapat dilakukan langkah mitigasi risiko yang tepat. Demikian halnya ketika bank menjadi bank kustodian atau agen penjual produk reksa dana. Mempelajari ketentuan mengenai pasar modal menjadi tidak dapat dihindari.

Memastikan keakuratan informasi adalah hal utama bagi in-house counsel karena pendapatnya akan digunakan manajemen dalam pengambilan keputusan perusahaan. Namun, cepatnya perubahan dalam dunia modern saat ini membuat tidak seorang pun dapat selalu mengetahui perkembangan informasi secara real-time. Ini termasuk dalam bidang hukum dan perundang-undangan.

Riset mendalam diperlukan untuk membantu in-house counsel memberikan pendapat hukum tepat sasaran dan memastikan perusahaan tidak tersesat dalam rimba peraturan. Selain meningkatkan kredibilitas in-house counsel sendiri, saran yang dilandasi riset mendalam akan meyakinkan perusahaan sebagai pihak penerima saran atas keputusan yang diambil.

Memperkaya Pengetahuan

Tidak dapat dipungkiri, seringkali hanya sebagian kecil saja dari hasil penelitian yang relevan. Namun demikian, sisanya tetap menjadi pengetahuan berharga yang bisa beguna saat dibutuhkan. Pengetahuan ini dapat mencakup pemahaman tentang arah kebijakan hukum yang ada, perkembangan yurisprudensi, atau wawasan tentang praktik terbaik di industri.

In-house counsel yang terus memperkaya pengetahuan akan lebih siap menghadapi tantangan hukum yang mungkin muncul di kemudian hari. Misalnya memahami regulasi internasional bisa berguna ketika perusahaan memutuskan untuk ekspansi ke pasar global.

Pengetahuan ini kemudian dapat dijadikan bahan tulisan populer yang melatih keterampilan mengemukaan pandangan selain juga untuk berbagi gagasan. Publikasi tulisan populer membuka peluang masuknya tanggapan dari para pemangku kepentingan lain atas isu atau masalah yang dikemukakan.

Menulis untuk Audiens, Bukan untuk Editor

Ketika berbicara mengenai tujuan kita menulis maka salah satu pertanyaan yang diajukan dalam acara Hukumonline menjadi amat relevan. Pertanyaan tersebut adalah bagaimana cara menulis untuk menarik perhatian editor. Saya sendiri tidak pernah berpikir soal editor dan ketertarikan mereka. Fokus saya adalah target pembaca tulisan saya dan siapa pun yang mungkin akan membacanya. Asumsinya jika tulisan kita dapat menggugah, menginspirasi, atau memberikan nilai tambah bagi pembaca, editor secara alami akan berkepentingan untuk memuatnya.

Mengutamakan pembaca dalam menulis juga berarti memahami kebutuhan, minat, dan masalah mereka. Sebelum mulai menulis, penting untuk melakukan riset tentang siapa target kita, apa yang mereka cari, dan bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan pesan kepada mereka. Dengan menempatkan diri dalam posisi pembaca, kita dapat menulis dengan cara yang lebih empatik dan efektif.

Selain itu, menulis untuk pembaca membantu kita menghindari jebakan menulis dengan gaya yang berlebihan atau terlalu teknis hanya untuk mengesankan editor. Tulisan yang terlalu rumit atau tidak relevan dengan kebutuhan pembaca tentu akan kehilangan manfaatnya.

Menulis untuk Berpikir, bukan Sebaliknya

Bagaimana memulai suatu tulisan adalah hal yang juga menarik perhatian. Dalam pekerjaan, terkadang saya terjebak dalam usaha mengejar kesempurnaan jawaban atas persoalan. Demikian pula proses penulisan, kita bisa terpaku jika memikirkan apa yang mau ditulis, bukan mulai menulis apa yang kita pikirkan. Menyempurnakan ide sebelum menulis seperti mencoba melukis di atas cairan. Selama permukaan masih cair, lukisan tidak akan pernah terselesaikan.

Kita justru dapat mengeksplorasi berbagai sudut pandang ketika mulai menulis, mengevaluasi argumen yang berbeda, dan menyempurnakan pemikiran yang ada. Bukan hanya membantu memecahkan masalah atau menjawab pertanyaan, tetapi sekaligus memperdalam pengetahuan dan memperluas wawasan. Menulis juga membantu mengembangkan ide dan memproses informasi, termasuk menemukan hubungan dan wawasan baru yang sebelumnya tidak kita sadari. Menulis memaksa kita untuk menyusun pikiran secara logis dan terstruktur, sekaligus memperdalam pemahaman tentang topik yang sedang dibahas. Kita dapat belajar mengomunikasikan ide-ide tersebut dengan lebih jelas dan efektif kepada orang lain dengan menulis.

Dengan demikian, menulis bukan hanya tentang menyampaikan informasi, tetapi juga tentang mengeksplorasi dan memahami informasi itu sendiri. Gagasan abstrak dapat terbentuk menjadi konsep yang lebih konkret untuk dipahami, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain, melalui tulisan.

AI untuk Efisiensi, bukan Mendikte Narasi

Pemanfaatan teknologi artificial intelligence (AI) dalam tulisan juga turut menjadi pertanyaan diskusi. Teknologi AI seperti Chat GPT memang dapat membantu penulisan artikel hukum populer dalam banyak cara mulai dari riset hingga penyuntingan. AI dapat menganalisis data dalam jumlah besar dan menyajikan informasi yang relevan dengan cepat. AI juga dapat membantu memecah satu kalimat dalam teks hukum yang panjang menjadi beberapa kalimat sederhana. Bisa juga untuk menyederhanakan satu paragraf yang kompleks dan penuh pengulangan kata menjadi satu kalimat sederhana. Hal ini akan membantu seorang penulis menghemat waktu dan tenaga dalam menemukan referensi yang sesuai, menyusun kutipan, bahkan menyarankan struktur penulisan.

Namun demikian, AI tetap memiliki keterbatasan. AI tidak mampu merasakan emosi dan tidak memiliki pengalaman pribadi yang kerap menjadi esensi atau kekuatan sebuah tulisan. Tulisan yang menggugah pembaca akan lahir dari intuisi, empati, dan perasaan penulisnya alih-alih dari kecerdasan buatan. Kepekaan dan kreativitas penulis tetap diperlukan untuk menghasilkan tulisan yang menarik dan bermakna.

Selain itu, keakuratan informasi, konteks, dan relevansi harus selalu diverifikasi oleh penulis sendiri. Kesalahan atau bias dalam data yang diproses oleh AI bisa berakibat fatal jika tidak diperhatikan. Sekalipun pemanfaatan AI dalam penulisan dapat meningkatkan efisiensi, intuisi dan empati penulis atas persoalan yang dihadapi belum bisa tergantikan oleh teknologi.

Akhirnya, seharusnya bahasa hukum tetap merupakan sebuah alat komunikasi yang dapat dimengerti oleh semua orang. Terlepas dari kekhasan struktur dan terminologi yang kaku, para profesional hukum harus bisa menjelaskan dengan sederhana berbagai konsep rumit hukum. Pemahaman ini menjadi penting ketika nasihat yang diberikan harus akurat dan relevan bagi para pendengar atau penggunanya. Pemahaman mendalam jelas perlu dimiliki.

Sekali lagi, menulis itu sendiri bukan sekadar cara untuk menyampaikan informasi tetapi sekaligus alat untuk berpikir dan mengeksplorasi gagasan. Artikel hukum populer seharusnya dapat menjembatani pemahaman soal konsep hukum yang kompleks oleh penulis untuk pembacanya. Tujuannya tentu saja agar komunikasi yang lebih bermakna antara dunia profesi hukum dan masyarakat luas bisa tercapai.

*)Yosea Iskandar adalah Praktisi Hukum Perbankan.

Artikel Kolom ini adalah tulisan pribadi Penulis, isinya tidak mewakili pandangan Redaksi Hukumonline.

bahasa
Yosea Iskandar

Praktisi Hukum Perbankan

Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info