Para anggota APHTN dan HAN diharapkan dapat menggunakan keluasan pemikiran dan keilmuannya baik sebagai akademisi agar jangan sampai terbuka akses panggung dan kesempatan bagi tampilnya ideologi lain yang bertentangan dengan ideologi Pancasila, masuk dengan mudah dan berkembang di Indonesia.
"Seluruh anggota APHTN-HAN harus terbiasa dan senantiasa siap sedia menjadi garda terdepan, bukan hanya berpikir tetapi juga beraksi dalam merestorasi kesadaran segenap warga negara bangsa akan kosmologi bangsa kita. Apapun latar belakang profesi, keimanannya, diikat oleh visi, misi dan tujuan bernegara yang sama," tutur Arief.
Begitu juga dengan Prof. Saldi Isra. Ia berharap, para akademisi dapat menularkan catatan kritis mereka kepada anak didik. Salah satunya dengan terus mau membaca dan menggali informasi dari riset-riset yang mendalam atas suatu hal yang tengah ditelusuri. Misalnya, jika ingin memahami UUD 1945, jangan hanya membaca perubahannya saja. Tapi harus memahami alasan di balik terbitnya pasal per pasal.
Hal ini penting mengingat situasi saat ini mencemaskan karena pengaruh media sosial yang berbahay. Ia mencontohkan menangnya putra diktator Ferdinand Marcos, yakni Marcos Jr sebagai calon presiden dari Filipina. "Itu baru saja terjadi di Filipina. Salah satu yang memberikan kontribusi besar adalah pengaruh sosmed. Ada lapis generasi mereka tidak peduli lagi pada perkembangan sejarah ketatanegaraan," pungkasnya.
















