“Saya yakin selama dua hari ke depan kita akan terlibat dalam diskusi yang bermakna, membangun koneksi baru, dan memperkuat kemitraan yang telah ada di dalam komunitas ASLI,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Indonesia, Prof. Mahmud Subandriyo menyebut konferensi ini bukan sekadar pertemuan akademik, melainkan forum strategis untuk membahas peran hukum dalam membentuk masa depan Asia.
“Di saat kawasan Asia mengalami transformasi yang sangat cepat, pengetahuan hukum harus terus memberikan arah, legitimasi, dan keseimbangan terhadap pertumbuhan,” kata Prof. Mahmud.
Dia menekankan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan pengetahuan yang dihasilkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Sehingga, dengan tema yang diangkat pada ASLI tahun ini menjadi relevan guna menjawab persoalan-persoalan yang ada di kawasan Asia.
“Ini mengingatkan kita bahwa hukum bukan sekadar mekanisme regulasi, tetapi juga fondasi bagi kepercayaan, akuntabilitas, dan kemajuan bersama,” ujarnya.
Ketua Dewan Gubernur ASLI, Prof. Wu Qiaofang turut mengapresiasi FHUI sebagai tuan rumah penyelenggaraan konferensi ini. Dia menuturkan, Indonesia menjadi lokasi yang tepat untuk penyelenggaraan konferensi tahun ini karena memiliki warisan budaya yang beragam serta dinamika sistem hukum yang unik.
“Saya sangat yakin, diskusi selama dua hari ke depan akan menyumbang pemikiran inovatif dan menghasilkan wawasan yurisprudensi yang substantif. Jadi, mari bersama mensukseskan konferensi ini dengan membangun kolaborasi yang semakin erat,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Konferensi ASLI ke-23 ini akan diselenggarakan selama dua hari. Yakni pada 3 dan 4 Juni 2026, yang menghadirkan beberapa ruang-ruang panel dengan berbagai judul penelitian.
















