"Mungkin saja, polisi ingin mereduksi ini dulu supaya nanti orang yang sebetulnya diincar polisi lengah. Jadi, itu teknik dari polisi agar membuat orang yang sebetulnya dituju atau aktor intelektualnya lengah," katanya.
Di penghujung bulan Ramadhan, publik Bandung dikagetkan dengan pembunuhan sadis wanita cantik Sisca Yofie. Dua pelaku membunuh Sisca dengan cara menyeratnya dengan sepeda motor sejauh 500 meter. Lalu, Sisca dibacok dengan sebilah golok.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung Ajun Komisaris Besar Trunoyudho Wisnu menjelaskan kepolisian telah menangkap dua pelaku, Ade dan Wawan. “Pelaku Ade menyerahkan diri Sabtu kemarin (10/8) sementara pelaku Wawan ditangkap saat naik motor di daerah Ciranjang, Kabupaten Cianjur, bersama istrinya,” ujarnya.
Salah seorang pelaku menuturkan bahwa motif kejahatan ini awalnya adalah penjambretan.
Torture Murder
Sebelumnya, Kriminolog dari Universitas Indonesia (UI) Mulyana W Kusumah menilai pembunuhan Sisca Yovie bukan merupakan pembunuhan aksidental (accidental killing), melainkan bentuk torture murder, yakni pembunuhan yang didahului penyiksaan dengan menyakiti korban secara fisik dengan sangat kejam, sebagai bentuk penghukuman terhadap korban.
Mulyana menjelaskan aktor utama pembunuhan yang merencanakan torture murder biasanya memiliki latar belakang hubungan sosial yang buruk dengan korban. Puncaknya dengan mengeksekusi korban sebagai pelampiasan kemarahan laten.
“Peristiwa pembunuhan Sisca Yofie memberi gambaran tentang kerentanan perempuan kelas menengah mandiri di kota besar, yang berpotensi menjadi korban kekerasan. Kita bisa melihat dengan jelas, solusi hubungan sosial patologis dengan cara kekerasan menunjukan kecenderungan yang meningkat,” ujarnya.
















