“Kompetensi yang selama ini paling sulit diukur dalam pendidikan tinggi justru menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan dunia kerja,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan pendidikan yang harus diatasi bersama. Karena itu, UI Employer Forum dihadirkan sebagai ruang dialog antara perguruan tinggi dan industri untuk membahas kebutuhan kompetensi masa depan secara lebih terbuka. Melalui forum ini, UI berharap memperoleh masukan langsung dari pemberi kerja guna menyempurnakan kurikulum dan proses pembelajaran.
Pada kesempatan yang sama, Managing Director Global Relations and Governance BPI Danantara, Mohammad Al-Arief, menekankan pentingnya membangun talenta yang mampu bersaing di tingkat global. Dia mengatakan dunia kerja telah berubah drastis, dengan batas geografis yang semakin memudar seiring perkembangan teknologi dan model kerja digital.
“Kita tidak lagi hanya bersaing dengan perusahaan di Jakarta atau Surabaya. Kita bersaing dengan pusat-pusat teknologi global, jaringan kerja terdistribusi, dan tenaga kerja berbasis algoritma,” ujarnya.

Managing Director Global Relations and Governance BPI Danantara, Mohammad Al-Arief. Foto: WIL
Menurut Arief, Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan pola pengembangan talenta lama jika ingin menjadi negara berkelas dunia. Karena itu, perguruan tinggi dan industri perlu membangun ekosistem talenta yang lebih terbuka dan kolaboratif.
Ia mengusulkan tiga langkah utama. Yakni memperkuat keterhubungan akademisi dan industri melalui pengembangan kurikulum yang melibatkan dunia usaha, memanfaatkan sistem kerja jarak jauh dan hibrida untuk menghubungkan talenta Indonesia dengan pasar global. Kemudian meningkatkan investasi pada program up-skilling dan re-skilling.
Arief menegaskan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) dan otomatisasi seharusnya dipandang sebagai pengganda kapabilitas yang dapat meningkatkan produktivitas, bukan ancaman bagi pekerjaan.
















