Terkait dengan soft skill, critical thinking yang menurut survei sangat dibutuhkan mahasiswa, ia menyebut banyak soft skill lain yang perlu dieksplor. Misalnya, soft skill yang berupa pemahaman-pemahaman tidak hanya teori, tetapi juga pemahaman-pemahaman terhadap cara atau metode untuk melihat sesuatu atau mengolah dari suatu perkara itu juga penting.
Menurut Prof Ali, tidak hanya legal drafting, tetapi juga hard skill lain perlu diperhatikan oleh mahasiswa. “Tidak hanya legal drafting, tetapi juga mood court competition, praktek mediasi itu juga penting,” lanjutnya.
Terkait pengembangan critical thinking dan problem solving, Prof. Ali menegaskan aspek tersebut telah diakomodasi dalam proses pembelajaran di FH UNNES. “Hampir semua mata kuliah saya mewajibkan mahasiswa menulis. Tulisan itu kemudian diunggah atau disubmit ke jurnal. Untuk S2 dan S3 itu wajib, sementara S1 juga diarahkan ke sana,” jelasnya.
FH UNNES juga memiliki berbagai klub studi yang mendorong diskusi dan analisis kritis mahasiswa. Aktivitas tersebut diperkuat dengan keterlibatan mahasiswa dalam organisasi kemahasiswaan, debat, dan berbagai kompetisi. “Critical thinking itu tumbuh melalui diskusi, riset, debat, dan praktik. Jadi sudah (kami) akomodasi,” katanya.
















