Pesta demokrasi lima tahunan yang digelar tahun ini akan berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Untuk pertama kali dalam sejarah, Indonesia bakal menggelar pemilu legislatif, presiden dan wakil presiden secara serentak atau bersamaan. Tentu ini menjadi pengalaman baru bagi penyelenggara pemilu, peserta pemilu, dan masyarakat sebagai pemilih.
Peneliti Perkumpulan Pemilu untuk Demokrasi (Perludem) Maharddika menilai Pemilu 2019 sangat kompleks karena melaksanakan 5 pemungutan suara pada hari yang sama. Pada 17 April 2019 nanti, di Tempat Pemungutan Suara (TPS) pemilih diberikan 5 jenis kertas suara untuk memilih calon anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, dan memilih calon presiden dan wakil presiden, kecuali pelaksanaan pemilu di DKI Jakarta dengan empat kotak/empat surat suara karena DKI Jakarta hanya ada DPRD provinsi.
Pria yang disapa Dika itu melihat pada praktiknya nanti tidak menutup kemungkinan pemilih akan kebingungan dalam menentukan pilihannya terutama dalam pemilu legislatif (DPR/DPRD). Dalam satu kertas suara terpampang banyak foto para calon anggota legislatif (caleg). Untuk membantu pemilih menentukan pilihannya, sedikitnya 6 portal yang memuat informasi para caleg yang jumlahnya sekitar 245.106 caleg dari 20 parpol peserta Pemilu 2019 dan salah satunya memuat informasi pasangan capres-cawapres.
Pertama, portal yang dikelola dan dikembangkan oleh Perludem (pintarmemilih.id). Dika menjelaskan sejak 2014, Perludem sudah mencermati pentingnya penggunaan teknologi informasi untuk menyampaikan informasi penting terkait pemilu kepada publik. Pada laman www.pintarmemilih.id ini masyarakat bisa mencari data dan informasi Pemilu 2019, seperti data daerah pemilihan, profil partai, calon presiden dan wakil presiden, calon anggota legislatif (DPR/DPD/DPRD), jadwal serta tahapan pemilu.
Basis data yang digunakan pintarmemilih.id mengacu pada data yang disampaikan setiap calon anggota legislatif kepada KPU. Namun, tidak semua calon terpampang datanya karena ada calon yang tidak ingin data pribadinya dibagikan kepada masyarakat. Selain itu, portal informasi ini terhubung dengan sistem pelaporan Bawaslu, sehingga masyarakat bisa sekaligus melapor dugaan ujaran kebencian atau disinformasi.
Untuk membantu masyarakat menentukan pilihannya, Dika berharap seluruh partai politik membuka data mengenai calon yang mereka usung. “Persoalannya saat ini tidak semua caleg mau membuka datanya (CV,-red). Masih ada sekitar 25 persen caleg yang menutup data CV-nya agar tidak bisa diakses publik,” kata Dika dalam diskusi bertajuk "Bongkar Rekam Jejak Caleg Sebelum Memilih" di Jakarta, Selasa (12/3/2019). Baca Juga: Kontroversi WNA Masuk Daftar Pemilih Tetap Jelang Pemilu 2019
Kedua, portal berita yang dikelola ICW (rekamjejak.net). Peneliti ICW, Almas Sjafrina menjelaskan portal ini diluncurkan 24 Februari 2019. Tujuannya untuk memberi informasi kepada publik tentang anggota DPR periode 2014-2019. Informasi ini penting juga bagi pemilih untuk mengetahui caleg petahana. “Hasil kajian ICW menunjukan 90 persen anggota DPR periode 2014-2019 maju lagi dalam Pemilu 2019,” ungkapnya.
Portal informasi yang dikembangkan ICW ini, menurut Almas melengkapi portal lain yang serupa. Melalui portal informasi ini, masyarakat diharapkan tidak bingung untuk menentukan caleg pilihannya. Beberapa informasi yang disajikan dalam portal ini, misalnya bisnis apa yang digeluti caleg yang bersangkutan, apakah perusahaannya pernah ikut lelang, pernah menang lelang atau tidak.
Ketiga, portal informasi yang dikelola Kantor Berita Radio (kbr.id/kenalicaleg/2019). Selain menyajikan informasi mengenai caleg, portal ini juga menginformasikan berita seputar Pemilu 2019. Basis data yang digunakan sama seperti portal informasi lain yakni data yang disampaikan caleg kepada KPU.
Keempat, portal informasi yang khusus merespon kinerja anggota DPR (wikidpr.org). Koordinator lapangan wikidpr.org, Akmal Permatasari menjelaskan informasi yang disajikan dalam portal ini mengenai kinerja anggota DPR. Misalnya, sikap politik anggota DPR terhadap RUU, tingkat kehadiran, dan kontribusinya dalam setiap rapat. “Kami berikan informasi ini agar publik mengetahui apa saja kerja yang dilakukan wakilnya di DPR,” paparnya.
Kelima, tak jauh berbeda dengan beberapa portal informasi lain, tapi portal ini sudah cukup lama ada yakni sejak 2009 (jariungu.com). Koordinator Litbang dan Teknis jariungu.com, Teuku Radja Sjahnan mengatakan waktu yang tersedia untuk pemilih di TPS sekitar satu menit. Waktu yang disediakan itu dirasa tidak cukup bagi pemilih yang belum memiliki informasi mengenai siapa calon yang menjadi pilihannya.
Portal www.jariungu.com, menurut Radja untuk menjawab persoalan informasi rekam jejak caleg itu, sehingga masyarakat bisa mencari tahu siapa caleg yang dipilih sesuai keinginannya. “Hanya perlu memasukan daerah tempat Anda tinggal, nanti akan ditampilkan siapa saja calegnya,” tutur Akmal.
Keenam, mengusung fokus berbeda, www.portaliklancapres.id, hanya menyajikan informasi mengenai dua pasang kandidat capres-cawapres yang bertarung dalam Pemilu 2019. Portal informasi ini dikembangkan oleh Yayasan Satu Dunia sejak 2018. Program Manager Satu Dunia, Anwari Natari mengatakan portal ini fokus mengamati kampanye yang dilakukan kedua pasangan capres-cawapres dalam Pemilu 2019.
Mengingat saat ini kedua kandidat belum boleh berkampanye di media cetak dan tv, Anwari mengaku organisasinya melakukan pemantauan pada akun resmi kedua kandidat di media sosial. Ada sejumlah isu yang porsinya kecil disuarakan kedua kandidat, seperti isu korupsi, penegakan hukum, keberagaman, lingkungan hidup dan HAM.
“Kami ingatkan tim kampanye masing-masing kandidat agar mengusung berbagai isu tersebut,” harapnya.
















