Melesatnya pertumbuhan perbankan syariah dari tahun ke tahun membuat pemerintah merasa perlu mendirikan sebuah bank milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang khusus menangani keuangan syariah. Satu bank BUMN syariah ini nantinya menjadi bank pemerintah terbesar. Namun, kajian ini masih didalami Kementerian BUMN.
Direktur Eksekutif Perbankan Syariah Bank Indonesia (BI), Edy Setiadi, mengatakan ada dua pilihan konsep yang berkembang dalam mendirikan sebuah bank BUMN syariah. Pertama, mengkonversi bank-bank syariah BUMN yang sudah ada. Pilihan ini sudah dilakukan oleh Malaysia. Pilihan kedua adalah mengakuisisi bank bermasalah menjadi bank BUMN syariah.
Sayangnya, kata Edy, dari kedua konsep yang tersebut ia belum bisa menilai mana yang paling kecil risikonya. Menurut dia, penilaian ini baru bisa dilakukan apabila dirinya ikut melakukan kajian dengan Kementerian BUMN.
Edy mengatakan, dari kedua konsep yang ada penentuan paling besar mana yang terbaik datang dari investor, yakni Kementerian BUMN sendiri. "Kita tunggu saja pengkajiannya. Saya enggak tahu risiko yang paling kecil mana, harus dilihat dari pengkajiannya. (Hingga kini, red) Belum diajak bicara," ujarnya, di Jakarta, Rabu (10/4).
Ia mengatakan, banyak alasan BUMN untuk mendirikan sebuah bank besar khusus syariah. Salah satunya adalah pertumbuhan bank syariah yang kian lama berkembang pesat. Hal ini terlihat dari indikator return on asset (ROA) perbankan syariah berada di atas dua persen. Begitu juga dengan loan to deposit ratio (LDR) yang sudah mencapai 100 persen.
Dengan angka LDR 100 persen ini menunjukkan kontribusi terhadap ekspor sangatlah tinggi. Akibatnya, investor atau BUMN tertarik masuk dalam bisnis ini. "Kalau kita lihat keuntungannya sudah bagus," kata Edy.
Pengamat perbankan syariah Nadrattuzaman Hosen menilai, daripada BUMN membuat satu bank khusus syariah, lebih baik induk-induk bank BUMN yang memiliki unit syariah menambah permodalan. Caranya, dengan menyuntikkan modal tambahan ke bank syariah. Dengan adanya tambahan modal tersebut, bank syariah bisa mengembangkan bisnisnya lebih baik lagi. Apalagi jika dilihat market Indonesia yang besar.
"Tapi yang paling bagus adalah induk memberikan tambahan dana, jadi CAR (Capital Adequacy Ratio)-nya lebih tinggi. Seperti Bank Syariah Mandiri itu mengalami masalah dengan CAR. Dia mau berkembang tapi CAR-nya kecil. Kalau dia ditambah lagi dia akan ekspansi terus," tutur Hadrat.
Ia menduga ada kekhawatiran dari bank induk jika suntikan modal tambahan dilakukan. Hal ini berkaca dari kasus yang terjadi antara Telkom dan Telkomsel. "Saya memperkirakan kalau dia disuntik dana sama induknya, jangan-jangan seperti Telkom dan Telkomsel. Telkomselnya lebih besar dari pada Telkom," ujar Hadrat.
Hadrat yang juga Direktur Islamic Banking and Finance Institute Universitas Trisakti ini mengatakan, jika konversi dilakukan peluang perbankan syariah kehilangan kepercayaan dari masyarakat sangat besar. Hal ini dikarenakan belum settle-nya bisnis perbankan syariah. Apabila konversi dilakukan dan return di perbankan syariah semakin menurun, dapat menimbulkan ketidakpercayaan dari masyarakat.
"Jadi ini menimbulkan ketidakstabilan. Jadi orang takut nanti ada lagi bank konvensional yang dikonversi. Jadi menimbulkan yang tidak baik. Ketidakpastian masyarakat atau nasabah. Kalau di bank itu tidak boleh ada timbul perasaan yang tidak pasti," kata Hadrat.
Jika suntikan modal sudah dilakukan, bank syariah bisa membidik pasar 30 persen yang belum terjamah bank. Segala macam sosialisasi dan pendekatan melalui tokoh-tokoh agama maupun tokoh masyarakat dapat dilakukan. Menurutnya, konversi bisa saja dilakukan, tapi menimbulkan hal yang baru bagi bisnis perbankan.
"Misalnya, perlu ada perbaikan-perbaikan data dan butuh penyesuaian-penyesuaian lagi," pungkasnya.
















