Sosok Lelyana menurut Todung bukanlah pengacara yang ‘bisa dibeli’. Sebaliknya semasa hidup berpraktik sebagai lawyer, Lelyana menolak klien yang ‘hitam’ karena diyakini penuh keculasan. Namun Lelyana hanya menangani perkara ketika yakin kliennya adalah korban kriminalisasi.

Todung Mulya Lubis saat memberikan ucapan di pemakaman Lelyana di TPU Tanah Kusir. Foto: HFW
Dia menjaga integritas dan moralitas kantor dengan sangat ketat. Lely juga dikenal aktif dalam berbagai gerakan antikorupsi, penguatan demokrasi, dan perlindungan HAM. Lelyana menurut Todung memang tidak menulis buku atau artikel. Tapi sikapnya menunjukan keberpihakannya melalui tindakan.
“Ia bersahaja, jujur, dan tidak neko-neko,” lanjut Todung.
Todung mengenang kiprah almarhumah dalam kasus besar yang ditanganinya. Seperti perkara minyak goreng yang kompleks. Menurut Todung, mendiang adalah salah satu pemikir hukum paling teliti dan tekun yang pernah ia temui. Bahkan ketika sakit, ia tetap memberikan dukungan moral. Kecerdasan, etos kerja, dan prinsip yang ia pegang hingga akhir menjadi warisan yang tak ternilai.
“Kita semua kehilangan sahabat, aktivis sosial, dan profesional hukum. Lely, selamat jalan. Semoga engkau mendapat tempat yang abadi di sisi Tuhan,” ujar Todung.

Menteri Agama periode 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin. Foto: HFW
Menteri Agama periode 2014-2019 Lukman Hakim Saifuddin yang menyampaikan doa serta refleksi mendalam di depan pusara makam Lelyana. Ia mengajak keluarga, sahabat, dan kolega almarhumah untuk mendoakan mendiang agar mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan dan dikenang melalui nilai-nilai perjuangan yang telah ia tinggalkan.
“Kematian bukan hanya duka, tetapi juga kebahagiaan bagi yang telah menyelesaikan perjalanannya. Almarhumah memberi kita nasihat hidup bahwa suatu saat kita pun akan berpulang. Bu Lely adalah teladan, role model bagi kita semua,” ujarnya.

Prof Jimly saat menghadiri pemakaman Lelyana.Foto: HFW
Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2003-2008, Prof Jimly Asshiddiqie turut memberikan penghormatan terakhir. Ia menekankan pentingnya menjadikan almarhumah sebagai teladan di tengah krisis integritas profesi hukum saat ini. Mendiang bersama suaminya adalah pasangan hidup yang saling mendukung, menunjang, dan memberi teladan tentang integritas dan kualitas penegak keadilan di Indonesia.
















