Mengenal Mandatory Convertible Bonds, Instrumen Hibrida di Persimpangan Utang dan Ekuitas
Terbaru

Mengenal Mandatory Convertible Bonds, Instrumen Hibrida di Persimpangan Utang dan Ekuitas

MCB merupakan instrumen yang sangat khas karena mengandung elemen ganda, yakni berawal sebagai utang, namun berakhir sebagai ekuitas.

Hanifah Dwi Jayanti
Bacaan 3 Menit

Adapun instrumen ini menarik karena bersifat hibrida, di satu sisi bersifat utang, namun memiliki unsur ekuitas. Ciri khas ini menjadikan MCB unik. “Posisi pemegang MCB pada awalnya adalah kreditur, namun saat konversi mereka menjadi pemegang saham,” tambahnya.

Zulfikar menegaskan bahwa bagi perusahaan penerbit, MCB dapat berdampak pada struktur keuangan. Di awal masa penerbitan, MCB dicatat sebagai liabilitas. Namun setelah dikonversi, utang tersebut berubah menjadi tambahan modal disetor, memperkuat posisi ekuitas perusahaan secara akuntansi. Meskipun begitu, MCB tetap membawa konsekuensi hukum dan administratif.

“Jika disertai bunga, penerbit MCB berkewajiban membayar kupon kepada investor. Selain itu, mereka juga harus mempertimbangkan potensi dilusi kepemilikan pemegang saham eksisting,” ungkapnya.

Potensi ini, kata dia, tentu menjadi pertimbangan strategis, terutama bagi perusahaan yang belum terbuka (private company) dan ingin menjaga stabilitas kepemilikan internal.

Dari sisi administratif, MCB juga membawa kewajiban yang berbeda tergantung dari bentuk perusahaan. Untuk perusahaan tertutup, apabila MCB diterbitkan sebagai kompensasi utang, maka ada potensi kewajiban pengumuman publik sesuai dengan ketentuan peraturan pemerintah. Sementara bagi perusahaan terbuka, kepatuhan terhadap regulasi pasar modal menjadi hal krusial, termasuk pelaporan kepada OJK dan keterbukaan informasi yang diatur secara ketat.

Bagi investor, MCB juga menawarkan posisi yang menarik namun kompleks. “Pada saat awal pembelian, investor berada dalam posisi sebagai kreditur. Namun mereka harus siap karena MCB secara otomatis akan dikonversi menjadi saham, tanpa ada opsi untuk menolak,” tegas Zulfikar.

Konversi tersebut bisa memberikan keuntungan dalam bentuk apresiasi harga saham, tetapi juga membawa risiko jika nilai saham saat konversi ternyata tidak menguntungkan. Hal ini mengharuskan investor untuk mempertimbangkan strategi dan analisis pasar secara cermat sebelum membeli MCB.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info