Terseret sebagai saksi perkara dugaan suap pada pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia 2004 silam, Miranda S Goeltom ternyata mengaku tak benar-benar tertarik dengan jabatan nomor dua di bank sentral itu.
Alasannya, Miranda merasa ‘trauma’ mengikuti uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test) di DPR. Ia ogah dicecar pertanyaan oleh anggota dewan soal kehidupan pribadi dan keluarganya.
"Hati kecil saya menolak (dicalonkan DGS BI 2004)," aku Miranda saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta dalam perkara yang melibatkan politisi PDIP, Agus Tjondro dkk, Kamis (12/5).
Miranda pernah punya pengalaman pahit soal fit and proper test. Setahun sebelumnya, pada 2003, saat mengikuti uji kepatutan di DPR sebagai Calon Gubernur BI, lebih dari 30 menit para anggota dewan khusus mempertanyakan persoalan pribadinya.
"(Penolakan) karena pemilihan calon Gubernur BI 2003, ada hal buruk terjadi mengenai pertanyaan yang tidak relevan dengan uji profesional kemampuan saya. Pertanyaan mengenai masalah keluarga, kalau ada yang lebih baik untuk negara silahkan saja (jadi DGS BI)," tutur Miranda.
Miranda akhirnya bersedia dicalonkan sebagai DGS BI dan mengikuti uji kepatutan di DPR setelah ada jaminan dari dewan untuk tidak mempertanyakan masalah keluarga.
Jaminan itu didapat Miranda setelah ia menemui fraksi PDIP di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan sebelum pelaksanaan uji kepatutan. Pada kesempatan itu, ia gunakan sekaligus untuk menyampaikan visi misi sebagai calon DGS BI.
















