Kelalaian itu, lanjut Mekeng adalah saat Menkeu tidak mempertanyakan secara detil status Bank Century. “Paling tidak dimana atau siapa Bank Century itu, pemegang saham, sejarahnya, kalau tidak paham sama sekali dan hanya membenarkan Bank Century ini gagal itu adalah suatu kelalaian,” tuturnya.
Menkeu menjawab, mendengar pertama kali tentang Bank Century saat dirinya berada di Amerika Serikat menghadiri pertemuan negara-negara G-20. Ia menjelaskan, saat melakukan teleconference dengan BI, dirinya hanya menanyakan siapa pemilik Bank Century. “Saya tidak tanyakan segalanya, saya hanya tanyakan siapa pemiliknya,” ujarnya.
Cegah krisis
Sri Mulyani menolak disebut lalai. Ia mengatakan, penetapan Century sebagai bank gagal adalah keputusan yang tepat. “Saya menggunakan kewenangan saya untuk cegah krisis,” tambahnya. Menurutnya, krisis keuangan global dimulai pada Desember 2007. Saat itu, lanjut Sri, krisis dapat mempengaruhi seluruh kinerja dan kepercayaan di seluruh dunia. “Sampai hari ini dapat dikatakan masih krisis,” tukasnya.
Mekeng tidak sependapat dengan Menkeu soal krisis. Menurut politisi dari Partai Golkar ini, berdasarkan surat resmi Depkeu tentang laporan tahun 2008 dinyatakan bahwa, kondisi perbankan secara fundamental masih terjaga. Selain itu, perbaikan investasi dan perbaikan lingkungan usaha serta intermediasi perbankan memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian secara nasional.
“Ini ingin saya katakan bahwa, apa yang ibu katakan krisis tidak tersampaikan dalam laporan keuangan pusat yang ibu buat sendiri. Keputusan yang dilakukan bailout tidak didasarkan pada keadaan yang krisis,” pungkasnya.
Menjawab persoalan itu, Sri Mulyani mengatakan mencegah krisis merupakan salah satu tugas KSSK. “Karena memang KSSK mencegah krisis dan kita berhasil. Berpotensi menciptakan krisis itu yang kita cegah,” pungkasnya.
















