“Yang terjadi adalah terbentuknya narasi yang membuat seolah-olah Iran merupakan ancaman langsung bagi Amerika Serikat, padahal kenyataannya tidak demikian dan justru berpotensi menyeret Amerika ke dalam konflik yang tidak perlu,” jelas Kent.
Dia membandingkan kondisi tersebut dengan pengalaman Amerika Serikat dalam perang Irak. Pola yang sama kembali muncul dengan penggunaan informasi yang tidak sepenuhnya akurat untuk membenarkan intervensi militer.
“Sebagai seorang veteran yang telah berkali-kali bertugas di medan tempur dan kehilangan pasangan hidup dalam perang, saya tidak bisa mendukung pengiriman prajurit berikutnya untuk bertempur dalam konflik yang tidak bermanfaat bagi rakyat Amerika,” tegas Kent.
Untuk itu, dia mendorong Trump untuk meninjau kembali kebijakan tersebut dan mempertimbangkan arah baru bagi negara serta mengingat dampak jangka panjang yang bisa ditimbulkan dari keputusan tersebut.
Sementara itu, pengamat politik dari University of British Columbia, Paul Quirk berpendapat bahwa pengunduran diri Kent mencerminkan adanya ketegangan antara keputusan politik dan pertimbangan profesional di dalam pemerintahan.
“Biasanya, pengunduran diri pejabat tinggi yang secara terbuka membantah alasan presiden dalam mengambil keputusan besar akan menjadi pukulan serius bagi pemerintah dan dapat mendorong pihak-pihak di Kongres untuk mulai mengkritisi kebijakan tersebut,” ucap Quirk sebagaimana dilansir Aljazeera.
Meski demikian, dia menilai saat ini dampaknya mungkin tidak terlalu besar karena kritik terhadap kebijakan perang Iran telah lebih dulu menguat tanpa adanya balasan positif dari Trump.
“Pernyataan Kent ini pada dasarnya hanya memperkuat kritik yang sebelumnya sudah berkembang luas, meskipun tetap berpotensi menjadi faktor pemicu jika tekanan politik terus meningkat,” pungkasnya.
















