Organisasi lingkungan hidup Greenpeace meminta pemerintah segera meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan. Tindakan itu menurut Greenpeace akan mengurangi dampak bencana akibat perubahan iklim yang mulai sering terjadi. “Jangan lagi berdalih investasi energi terbarukan mahal, tapi lihat manfaat dari investasi tersebut,” tukas pengkampanye iklim dan energi Greenpeace kawasan Asia Tenggara dan Indonesia, Hindun Mulaika di Jakarta, Senin (11/10).
Mulaika menilai pemanfaatan energi fosil di Indonesia salah kelola. Sehingga terjadi krisis energi seperti listrik akibat salah kelola. “Guna menjawab itu, pemerintah malah mengusulkan nuklir sebagai solusi kelangkaan energi, terutama listrik,” paparnya.
Padahal, lanjut Mulaika, dari hasil penelitian Greenpeace, energi terbarukan di Indonesia sangat berlimpah. Namun, ternyata tidak dimanfaatkan dengan optimal. “Bahkan begitu minim,” tandasnya.
Dia lalu merujuk hasil penelitian yang dilakukan tahun 2007 oleh Greenpeace dan diberi judul 'Energy (R)evolution, a Sustainable Indonesia Energy Outlook' menyebutkan, energi air di Indonesia memiliki potensi energi untuk pembangkit listrik sebesar 75 ribu mega watt (MW). Jika dimanfaatkan untuk skala kecil dapat menghasilkan tenaga 84 MW. Belum lagi memanfaatkan ombak dengan potensi sekira 240 ribu MW.
Menurut penelitian itu, pemanfaatan energi air skala kecil dapat diterapkan di daerah seperti Sumatera Barat, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tengah. Sedangkan untuk instalasi lebih besar dapat digunakan di Sumatera Utara, Bengkulu, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. “Dan, tidak membutuhkan investasi awal besar, dan dapat dibiayai perorangan.”
Greenpeace menggunakan data DGEEU (Directorate General Electricity and Energy Utilization) yang menyebutkan ada tiga lokasi terdeteksi memiliki potensi pemanfaatan energi angin yaitu Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi dapat menggerakkan turbin guna menghasilkan listrik melebihi 100 kilo watt (kW). Sedangkan selain tiga lokasi tersebut berpotensi menghasilkan 10-100 kW.
Selain energi panas matahari, energi panas bumi juga baru dimanfaatkan minimal. Padahal, lanjut Hindun, sepanjang kepulauan Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Maluku terdapat jajaran gunung vulkanik aktif penyimpan panas bumi. Setidaknya, menurut dia, jika dimanfaatkan, maka dapat mensuplai 40 persen kebutuhan dunia.
















