Sebab, biasanya kantor hukum sudah memiliki presentase negara asal klien. Apabila law firm yang bersangkutan banyak menangani klien dari negara tertentu, jelas berimbas pada ekspektasi penguasaan bahasa asing tertentu oleh pelamar posisi lawyer di kantor tersebut. Meski begitu, bila berbicara dalam skup global, Erwin menilai pemahaman bahasa Mandarin bisa menjadi peluang.
Guna menguasai bahasa asing, dia berbagi tipsnya, seperti memperbanyak membaca literatur dalam bahasa Inggris baik buku cerita maupun buku lainnya. Setidaknya untuk melatih tata bahasa dan menambah pemahaman kata-kata dalam bahasa asing. Tetapi juga harus dibarengi dengan rajin menulis atau menonton film.
“Buat teman-teman calon lawyer, memang Fakultas Hukum itu mengajarkan kerangka berpikir metodologis itu penting sekali. Tetapi untuk pengembangan selanjutnya banyak terbentuk dari pekerjaan di manapun itu. Kalau untuk di law firm mungkin itu salah satu pertimbangan utama ya kemampuan berbahasa Inggris. Jadi tolong diperkuat, hampir tidak ada pilihan sih sekarang (harus bisa berbahasa asing). Apa agi kita globalisasi, mau tidak mau bahasa Inggris itu penting.”
Founding Partner Law Office Yang & Co., Marcia Wibisono, dalam kesempatan terpisah juga memiliki pendapat selaras dengan Erwin. Terkhususnya di kantor hukum Yang & Co., penguasaan bahasa asing terutama bahasa Inggris menjadi hal penting pada saat proses rekrutmen lawyer. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh banyak klien asing yang ditangani serta cross border transactions yang dikerjakan.
Ia menuturkan saat ini bahasa Inggris menjadi salah satu syarat mutlak bagi pelamar kerja posisi lawyer di kantornya. Adapun bila pelamar merupakan seorang yang fasih berbahasa Mandarin yang merupakan bahasa kedua yang akan menjadi nilai plus dalam mempertimbangkan calon lawyer. Tetap, bila terdapat keahlian bahasa lain juga dapat jadi bahan pertimbangan kantor.
“Saya memahami tidak semua orang memiliki akses untuk belajar bahasa asing dengan mudah. Tips dari pengalaman saya pribadi, bagi saya yang awalnya tidak terlalu memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan bahasa Inggris, saya membiasakan diri untuk membaca novel dalam bahasa Inggris,” ujar Marcia melalui jawaban tertulisnya yang diterima Hukumonline.
Berbeda dengan zaman sekarang yang dapat dengan mudah melakukan browsing di internet. “Di zaman sekarang yang termudah adalah menonton film dengan menggunakan teks dalam bahasa inggris atau bahkan tanpa teks untuk membiasakan diri fokus mendengarkan. Ini bisa melatih kebiasaan komunikasi dalam bahasa asing juga,” kata dia menyarankan.
“Apabila yang bersangkutan (lawyer) tidak berminat untuk memperluas lingkup kerja hingga mencakup cross border transactions, tentunya sangat memungkinkan baginya untuk bekerja dengan hanya menguasai satu bahasa. Akan tetapi, apabila seorang lawyer berencana untuk ‘go international’ dengan menangani cross border transactions dan menambah klien asing dalam listnya, tentunya mutlak baginya untuk menguasai lebih dari satu bahasa.”
















