Hal ini berdampak pada perlambatan pertumbuhan di berbagai negara maju dan berkembang, termasuk Tiongkok yang hanya tumbuh 5,2 persen pada triwulan kedua, turun dari 5,4 persen pada triwulan pertama.
“Lingkungan global saat ini memang menantang. Namun Indonesia terus memperkuat ketahanan domestik melalui instrumen fiskal, termasuk stimulus ekonomi yang diluncurkan pada kuartal I dan II, serta dukungan terhadap sektor-sektor prioritas,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan sektor swasta sebagai penggerak utama pertumbuhan ekonomi akan terus didorong, termasuk melalui percepatan deregulasi dan optimalisasi peran lembaga keuangan.
Meskipun Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia masih berada di zona kontraksi 46,9 pada Juni 2025 pemerintah tetap menjaga momentum pertumbuhan agar tetap berada di kisaran 5 persen untuk keseluruhan tahun.
“Berbagai pertumbuhan dan kondisi strategi kebijakan akan terus ditingkatkan untuk mendorong multiplier efek yang lebih besar, sehingga ekonomi Indonesia tahun 2025 diproyeksikan masih akan tumbuh di sekitar 5 persen,” pungkasnya.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan komitmennya dalam menjaga stabilitas sistem keuangan nasional di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan dan geopolitik global.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menegaskan bahwa OJK secara aktif memantau dinamika pasar keuangan domestik dan siap mengambil langkah kebijakan yang diperlukan untuk mengantisipasi risiko yang muncul.
















