Fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan seiring dengan meningkatnya tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Meski tekanan terhadap pasar modal Indonesia terasa, sejumlah pengamat menilai bahwa koreksi IHSG kali ini belum seburuk saat pandemi COVID-19 melanda.
Mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Jakarta periode 1999–2002, Mas Achmad Daniri, menilai bahwa pergerakan naik-turun di pasar saham merupakan bagian dari dinamika pasar yang wajar. Ia menyarankan para investor untuk tetap tenang dan menjadikan kondisi ini sebagai peluang.
"Saya sudah terbiasa melihat pasar turun-naik. Justru saat pasar turun, itu kesempatan untuk membeli. Kalau sedang naik, itu kesempatan untuk menjual. Pasar akan menemukan keseimbangan barunya," ujarnya dalam Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI) Webinar Series bertajuk ‘IHSG Anjlok, What to do?’, Selasa (15/4).
Baca juga:
- Firma Hukum Terkemuka AS Ramai-ramai Kecam 'Serangan' Trump terhadap Profesi Hukum
- Trump Terbitkan Perintah Eksekutif, Sejumlah Firma Hukum Besar AS Ditekan hingga Sepakat Bantu Pemerintah
Menurut Daniri, yang paling penting dalam berinvestasi di pasar modal adalah menggunakan dana khusus, bukan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Selain itu, investor perlu fokus pada analisis fundamental perusahaan ketimbang hanya mengandalkan pendekatan teknikal, terutama dalam kondisi pasar yang volatile seperti saat ini.
"Fokus pada fundamental. Saham yang punya fundamental kuat pasti akan rebound pada waktunya. Itu bisa menghindarkan dari kerugian dan bahkan mendatangkan keuntungan saat pasar pulih," lanjutnya.
Lebih jauh, Daniri menekankan pentingnya penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam strategi investasi. Menurutnya, ESG bukan hanya tren, tetapi menjadi dasar penting dalam mengambil keputusan beli-jual saham secara berkelanjutan. ESG dinilai mampu membantu investor dalam memilih perusahaan yang memiliki prospek jangka panjang dan kepatuhan terhadap aspek keberlanjutan.
















