Lebih lanjut, ia mengkritik perubahan sejumlah aturan bursa yang dinilai mengakomodasi kepentingan tertentu dan memperbesar potensi konflik kepentingan. Ia juga menilai otoritas belum memberikan penjelasan memadai terkait penyebab penurunan indeks maupun apakah transaksi yang terjadi telah memenuhi prinsip wajar, teratur, dan efisien.
“Masalahnya bukan harga naik atau turun, tapi apakah pergerakannya wajar, teratur, dan efisien,” tegasnya.
Yanuar mengingatkan, kondisi fundamental ekonomi tidak sepenuhnya kuat. Terlihat dari penerimaan negara yang tidak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini memperkuat indikasi, aktivitas di pasar modal lebih banyak didorong oleh spekulasi dibandingkan kinerja fundamental.
Tekanan dari lembaga global seperti MSCI, Moody’s, dan Fitch menjadi momentum penting untuk mendorong reformasi. Ke depan, menurut Yanuar isu utama tidak lagi semata soal free float, melainkan kondisi fiskal Indonesia yang menjadi sorotan. Dalam situasi seperti ini, potensi krisis perlu diantisipasi, mengingat dalam setiap krisis selalu ada pihak yang justru meraih keuntungan terbesar dari ketidakpastian.
















