suasana acara peresmian Hukumonline Corner di FH USU.
“Kalau kita pahami sekarang, Google yang dulunya saat kita mencari informasi langsung menampilkan link-link ke portal berita, sekarang sudah tidak lagi. Sekarang Google langsung menampilkan ringkasan atau jawaban, dan pengguna merasa cukup di sana, tidak perlu klik link lagi. Begitu juga ketika kita menggunakan AI seperti ChatGPT, kita langsung mendapatkan jawabannya. Kita tidak bergumul lagi di halaman portal media,” jelasnya.
Kondisi ini, kata dia, telah dikaji dalam sebuah studi yang dirilis oleh platform lisensi konten TollBit, pada 24 Februari 2024. Studi tersebut menunjukkan bahwa AI seperti yang dikembangkan oleh OpenAI telah menurunkan tingkat kunjungan ke portal berita hingga 96 persen.
“Ini ekstrem sekali. Hampir 100 persen kunjungan ke portal-portal berita berkurang karena jawaban atau analisis yang biasa kita cari di media, sekarang bisa langsung kita dapat dari AI. Ini benar-benar memukul basis dari media digital,” katanya.
Dampak kedua yang tak kalah besar adalah pada model bisnis media, khususnya media yang mengandalkan pendapatan dari iklan. Penurunan traffic membuat potensi pendapatan dari iklan menjadi sangat kecil, bahkan bisa menghilang sepenuhnya. Hal ini tentu menjadi ancaman nyata bagi kelangsungan hidup banyak media, terutama yang belum mengembangkan sistem berlangganan atau monetisasi lain.
Kemudian yang ketiga, terdapat kekhawatiran bahwa perusahaan teknologi besar menggunakan konten dari penulis, jurnalis, dan kreator tanpa izin atau kompensasi yang layak untuk melatih model AI mereka. Praktik ini tidak hanya melanggar hak kekayaan intelektual tetapi juga merugikan finansial para pembuat konten dengan mengalihkan lalu lintas dan pendapatan dari platformnya.
Menanggapi tantangan tersebut, Amrie menjelaskan bahwa Hukumonline sejak lama telah menerapkan sistem konten berbayar atau konten berlangganan. Dengan pendekatan tersebut, Hukumonline mampu lebih mandiri dari sisi finansial dan terus berinovasi, termasuk dengan meluncurkan platform AI mereka sendiri, yaitu AIlex.
“Kami berdiri sudah hampir 25 tahun. Sejak awal lama sudah memulai dengan sistem konten berlangganan. Salah satu inovasi terbaru kami adalah AIlex. Ini harus dimaksimalkan oleh teman-teman semua, karena tidak semua kampus hukum di Indonesia mendapatkan fasilitas ini,” tegasnya.
















