Polresta Surakarta Lakukan Pendekatan Terkait Pemasangan Bendera ISIS
Berita

Polresta Surakarta Lakukan Pendekatan Terkait Pemasangan Bendera ISIS

Gubernur Jawa Tengah akan mengajak dialog pendukung ISIS di Solo.

ANT
Bacaan 2 Menit
Pendukung ISIS asal Indonesia. Foto: http://www.islamtimes.org.
Pendukung ISIS asal Indonesia. Foto: http://www.islamtimes.org.
Kepolisian Resor Kota Surakarta menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan pendekatan kepada kelompok yang memasang gambar bendera organisasi 'Islamic State of Iraq and Syria' (ISIS) di kawasan Jalan Veteran Tipes Solo, Jawa Tengah, karena sudah meresahkan masyarakat.

Kepala Polresta Surakarta Kombes Pol Iriansyah melalui Kasat Intelejen dan Keamanan Kompol Fahrudin, di Solo, Senin (4/8), mengatakan, pihaknya sudah mendapat sejumlah laporan dari masyarakat adanya gambar simbol organisasi ISIS.

"Adanya gambar yang menempel di tembok taman itu sudah menjadi keresahan masyarakat. Kita bukan sentimen terhadap agama, tetapi demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," kata Fahrudin.

Menurut dia, pihaknya melakukan pendekatan secara persuasif untuk mengurangi keresahan masyarakat dengan menutup atau melepas gambar tersebut. Ada memang beberapa tokoh agama kelompok mereka di Solo tidak sependapat dengan gambar tersebut.

"Kami memantau di Kota Solo selama ini, belum ada kelompok yang masuk organisasi ISIS itu. Tokoh agama juga memberitahukan bahwa mereka belum paham betul tentang ISIS itu sehingga perlu diluruskan melalui instasi terkait seperti Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia atau tokoh Agama," katanya.

Menurut dia, hingga kini masih melakukan pendalaman terkait pemasangan gambar tersebut dan melakukan pendekatan meminta siapa yang memasang untuk melepas atau menghapus guna mengurangi keresahan masyarakat.

"Kami akan melakukan langkah dengan cara pendekatan dari hati ke hati untuk mengimbau mereka yang memasang spanduk atau gambar itu diminta segera melepaskan untuk mengurangi keresahan masyarakat. Kami lebih mementingkan keutuhan NKRI," katanya.

Sementara, pihak Korem Warastratama/074 Surakarta juga melakukan pendalaman dan bertindak hati-hati terkait adanya gambar bendera organisasi ISIS yang terpasang di kawasan Jalan Veteran Tipes dan daerah Semanggi.

Menurut Komandan Korem Warastratama/074 Surakarta, Kolonel Inf Bakti Agus Fadjari melalui Kapenrem Mayor Djoko Nugroho, di kawasan Semanggi sebelumnya ada sekitar tiga bendara, tetapi kini sudah dilepas.

Menurut dia, hingga kini masih melakukan pendalaman dan belum bisa menyimpulkan siapa-siapa yang memasang gambar tersebut. "Kami sudah memantau di lapangan, tetapi pemasangan gambar simbol ISIS itu, sudah dilepas kembali di kawasan Semanggi," katanya.

Namun, kata dia, dengan adanya gambar-gambar atau simbol ISIS tersebut lebih tepatnya ditangani oleh Polri. TNI ikut mendukung dan mengantisipasi menjaga keutuhan NKRI. "Polri banyak memiliki anggota intelijen yang bisa mengantisipasi agar hal itu, tidak berkembang," katanya.

Tak Bisa Dibiarkan
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menilai bahwa masuknya kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah di Indonesia, khususnya di Kota Surakarta, Provinsi Jateng, tidak bisa dibiarkan oleh semua pihak karena mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

"Saat ini Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) masuk di Indonesia, Jateng sudah masuk, di Solo (Surakarta, red) juga sudah ada tembok-tembok yang ditulisi, itu bukan persoalan yang bisa dibiarkan karena bersifat serius," katanya di Semarang, Senin (4/8).

Menurut Ganjar, masyarakat yang telah bergabung dengan ISIS di Indonesia perlu diajak berbicara guna mengetahui alasan yang bersangkutan masuk ke kelompok militan tersebut.

"Mereka kita ajak berdialog, apakah mereka emosional atau karena ideologi, jika ideologi maka harus segera diselesaikan, tapi kalau emosional harus dikembalikan ke 'track' dengan didekati secara kultural atau spiritual," ujarnya.

Ganjar mengaku sudah meminta jajaran Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Pemerintah Provinsi Jateng untuk mencermati permasalahan terkait ISIS di Indonesia.

"'Early warning system' kita harus berjalan dan pendekatan-pendekatan keagamaan serta budaya perlu didorong untuk meneguhkan Jateng sebagai benteng Pancasila," katanya.

Sebelumnya di masyarakat, beredar video berdurasi 8 menit 27 detik yang berisi ajakan dari seorang warga negara Indonesia untuk bergabung dengan kelompok militan pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi itu.

Kelompok ISIS menjadi perhatian dunia karena diketahui menggunakan cara-cara kekerasan untuk memperluas pengaruhnya di sejumlah wilayah.
Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info