President University menyelenggarakan seminar internasional bertajuk Strengthening Indonesia-Rwanda Bilateral Relations di VIP Room Fabrication Lab (FabLab), President University Convention Center, Jumat (5/6/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Duta Besar Rwanda untuk Indonesia, Sheikh Abdul Karim Harelimana, sebagai pembicara utama.
Seminar ini menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa untuk memahami lebih jauh hubungan bilateral Indonesia dan Rwanda, sekaligus mengenal perjalanan pembangunan Rwanda, sebuah negara yang berada di kawasan Afrika Timur, yang dalam beberapa dekade terakhir mendapat perhatian dunia internasional.
Dalam paparannya, Harelimana menjelaskan Rwanda telah berdiri sebagai sebuah kerajaan jauh sebelum kedatangan kolonialisme. Menurutnya, kerajaan tersebut telah eksis selama ratusan tahun dengan wilayah yang lebih luas dibandingkan Rwanda saat ini. Namun, kebijakan kolonial membuat sejumlah wilayah yang memiliki kesamaan budaya dan bahasa terpisah dan menjadi bagian negara lain.
Baca Juga:
- Mengenal Prodi Hukum President University
- Kekhasan Prodi Hukum President University, Program Streams Hingga Full Bahasa Inggris
Ia juga menyinggung dampak politik divide et impera atau politik pecah belah pada masa kolonial yang dinilai memicu perpecahan di tengah masyarakat Rwanda. Oleh karena itu, persatuan nasional menjadi salah satu fondasi utama yang terus dibangun pemerintah Rwanda hingga sekarang.
Mengenai visi pembangunan negaranya, Harelimana menegaskan bahwa pendidikan menjadi kunci utama untuk mencapai target Rwanda 2050.
“Jika kami ingin mencapai target yang telah ditetapkan untuk tahun 2050, maka kami membutuhkan pendidikan,” ujarnya dalam keterangan pers yang dikutip Hukumonline, Selasa (9/6).
















