“Kita juga terbantu oleh Hukumonline. Karena kalau dulu kita kan nyari peraturan harus di perpustakaan atau searching. Sekarang Hukumonline sudah menyediakan ke kita. Untuk operasional itu sangat membantu. Jadi S&T mau gak mau masuk ke situ juga, tidak mungkin kita akan menutup mata atau ngotot tidak akan digitalisasi. Jadi untuk sustainability itu kita perlu sistem yang bagus,” ungkap Deny.
Kehadiran kantor fisik juga tetap menjadi penting sebagai wadah untuk mengakomodasi berbagai aktivitas firma hukum mulai dari membangun kepercayaan, memperkuat ikatan kekeluargaan, hingga menciptakan bonding di antara karyawan termasuk lawyer. Selain itu, pelaksanaan kewajiban pro bono serta penerimaan mahasiswa magang juga membutuhkan ruang kerja offline yang memadai sebagai bagian dari fungsi sosial dan profesional firma.
Adapun dalam menjaga eksistensi firma hukum di era yang serba cepat berubah dan kompetitif, advokat senior Hafzan Taher menekankan bahwa kunci utamanya adalah memberi ruang bagi generasi muda. Ia juga menyoroti pentingnya membangun relasi yang kuat dengan para lawyer maupun alumni. Menurutnya, sekalipun didikan S&T kelak melebarkan sayap ke berbagai tempat, firma akan selalu membuka pintu bagi para alumninya.
“Kuncinya mensyukuri, bersyukur terhadap apa yang dialami. Pendidikan hukum, segala macam, syukuri. Selanjutnya adalah dengan menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Terakhir, mau ke mana kamu ke depannya? Khusus kepada yang muda-muda, jangan pernah berhenti untuk belajar, menggali ilmu. Kemudian jangan egois, jangan lupa bersyukur. Insya Allah jalan ke depan itu terbuka,” pesan Hafzan.
















