Berkat kerja keras Riska, ia saat ini bisa membangun sebuah toko kelontong kecil di rumahnya untuk membantu kehidupan sehari-hari. Hal ini jugalah yang menjadi pelipur lara Riska jika jenuh dengan rutinitas bekerja dan mengerjakan skripsi.
“Karena hidup di desa, seorang sarjana itu sebuah kebanggan. Jadi kalau di warung sering banyak pembeli yang mendoakan dan memberi semangat. Itu jadi salah satu relaksasi saya jika jenuh,” jelas Riska.
Meraih IPK nyaris sempurna tentu bukanlah hal yang mudah. Selain akademik, Riska kerap memenangkan sederet lomba. Dia pernah meraih peringkat 1 Lomba Debat Internal Konstitusi FH UMK dan Juara II Lomba Debat Konstitusi Nasional yang diselenggarakan Universitas 17 Agustus Semarang.
Riska mengajak mahasiswa hukum yang memiliki perjuangan yang sama dengan dirinya untuk terus semangat mengejar impian dan cita-cita meski kesulitan melanda.
“Semangat terus, jangan mudah terlena dengan kesulitan. Jangan sekali-sekali membandingkan diri dengan orang lain, tapi bandingkan diri kita hari ini dengan yang kemarin. Jangan lupa terus konsisten dan ingat tujuan awal,” ujarnya.
Ia juga memberikan wejangan kepada mahasiswa hukum yang saat ini tengah berproses untuk lulus dan masih berkutat dengan tugas akhir. Riska memberi pesan agar jangan takut dengan apa yang belum terjadi, konsisten dalam mengerjakan, dan terus menghubungi dosen pembimbing.
“Yang penting dijalani saja, nanti akan selesai pada akhirnya,” lugasnya.
Dalam waktu dekat Riska berencana akan melanjutkan kariernya di perusahaan, untuk selanjutnya mencoba mewujudkan cita-cita selama menjadi mahasiswa ilmu hukum, yaitu menjadi Jaksa Penuntut Umum.
















