Karya tulis yang berhasil tembus jurnal internasional bereputasi memberi kebanggaan bagi penulisnya. Tak hanya itu, organisasi tempat penulis itu bernaung juga mendapat citra positif. Tapi tidak mudah menembus jurnal terindeks scopus, apalagi yang bertengger di peringkat teratas seperti Quartile 1 (Q1). Perlu keseriusan dan strategi yang tepat agar artikel bisa lolos dari tangan editor pengelola jurnal.
Dosen Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (Unnes), Saru Arifin, membeberkan 3 jurus jitu bagi penulis untuk menghadapi tembok besar jurnal internasional. Mulai dari membingkai (framing) ide, ketersambungan ide, dan keterbacaan. Setelah penulis mampu menyelesaikan 3 tantangan tersebut, langkah berikutnya banyak membaca artikel di jurnal internasional.
Penulis bisa menganalisa bentuk karya tulis yang tayang di berbagai jurnal tersebut. Dia mengingatkan agar jangan pernah membaca artikel yang terbit di jurnal predator, karena prosesnya instan sehingga kualitasnya diragukan. Semakin banyak membaca artikel berkualitas maka karya tulis yang dihasilkan juga berpotensi baik.
“Kalau mau menulis yang bagus maka bacaannya juga bacaan yang bagus. Dengan membaca literatur yang bagus selain dapat insight yang bagus juga mempengaruhi cara berpikir dan menulis kita,” kata Saru saat berbincang dengan Hukumonline, Kamis (24/10/2024) lalu.
Baca juga:
- 3 'Jurus Jitu' Artikel Tembus Jurnal Internasional Bereputasi
- 'Jatuh Bangun' Dosen FH UNISBA Ini Tembus Jurnal Internasional
- Tips Menulis Artikel Hukum Agar Tembus Jurnal Nasional dan Internasional
Saru mengaku sejak kuliah menggandrungi sejumlah penulis Indonesia yang karya tulisnya berkualitas seperti Prof Nurcholish Madjid. Setelah banyak membaca karya tulis yang bagus, langkah selanjutnya mulai menulis secara bertahap. Ketika menulis jangan berasumsi tulisan harus sempurna, apalagi bagi penulis pemula. Sebisa mungkin menuangkan ide dan pemikiran di atas kertas. Perbaikan naskah atau edit dilakukan untuk membenahi teknik penulisan seperti sitasi harus berasal dari sumber yang kredibel dan terverifikasi.
Sebelum mengutip media sebagai sumber dalam tulisan, Saru merekomendasikan untuk mengecek lebih dulu apakah informasi yang disajikan terpercaya atau tidak. Media berbasis nasional relatif bisa diandalkan karena asumsinya setiap berita yang tayang diproses editor. Jurnalis yang menulis berita di media tersebut umumnya mengantongi sertifikasi. Jika mengutip informasi dari media secara sembarangan, berpotensi akan dikomentari editor jurnal.
















