“Mereka sering mengacu ke putusan Supreme Court (MA). Di Indonesia kan ketika belajar hukum jarang mengacu ke putusan MA,” tutur alumnus Universitas Sumatera Utara ini.
Perbedaan lainnya, Angeline melanjutkan, bahwa orang-orang yang kuliah hukum di negeri Obama ini umumnya adalah mereka yang memiliki motivasi kuat. Ini disebabkan karena kuliah hukum termasuk salah satu kuliah termahal di AS.
“Di Indonesia kan setelah lulus SMA bisa masuk fakultas hukum. Di sini, sekolah hukum itu bukan untuk undergraduate, tetapi untuk graduate. Jadi, setara dengan S2,” tuturnya.
Karenanya, para mahasiswa hukum di Amerika Serikat kebanyakan sudah memiliki pengelaman bekerja di tempat lain. “Mereka sudah matang. Di kampus saya, banyak sekali yang sudah berpengalaman dan siap secara mental. Mereka juga benar-benar mau belajar karena mahalnya biaya kuliah,” tuturnya.
Jadi, lanjut Angeline, bagi mahasiswa atau mahasiswi Indonesia yang ingin belajar hukum di Amerika Serikat maka siap-siaplah ‘berhadapan’ dan berinteraksi dengan teman-teman kuliah yang memang benar-benar sudah berpengalaman dan serius.
“Mahasiswa yang ingin belajar hukum di sini harus siap tahan banting. Jangan setengah hati. Dan open your mind (buka pikiranmu,-red),” pesannya.
Selain itu, bahasa juga harus menjadi salah satu yang paling penting untuk dipersiapkan. Ia menuturkan yang dipelajari bukan hanya Bahasa Inggris formal, tetapi juga bahasa-bahasa atau istilah-istilah hukum AS dalam bahasa inggris.
Dan yang tak kalah pentingnya, lanjut Angeline, adalah persiapan untuk menghadapi budaya Amerika Serikat yang berbeda dengan Indonesia. “Contohnya, humor mereka berbeda. Mungkin karena mereka punya budaya yang berbeda. Misalnya, mereka sering sekali ngomong tentang basket atau American Football yang saya tak mengerti,” pungkasnya.
















