Keberhasilan pengadilan sebagai lembaga penegak hukum tak bisa lepas dari kepemimpinan dan pemikiran yang kuat dari para hakim ketua. Hal ini menjadi diskusi dalam bedah buku karya Stefanus Hendrianto, SJ ‘Law and Politics of Constitutional Courts: Indonesia and the Search of Judicial Heroes’, Kamis (25/7). Romo Hendri—begitu ia akrab disapa—membuktikan dalam penelitiannya bagaimana sosok hakim yang memimpin Mahkamah Konstitusi sangat berpengaruh terhadap kesuksesan memenuhi rasa keadilan masyarakat.
Pengajar Sekolah Tinggi Hukum Jentera, Bivitri Susanti, memberikan penilaian atas isi buku itu. “Buku ini menawarkan pelajaran soal bagaimana orang-orang dengan karakter pemikiran dan kepemimpinan kuat berpengaruh dalam membangun karakter pengadilan itu sendiri,” kata Bivitri Susanti kepada hukumonline.
Romo Hendri mengenalkan sebuah gagasan baru bernama judicial heroes untuk menggambarkan sosok para hakim ketua yang mampu menjadikan pengadilan memenangkan ‘perjuangan’ hak-hak konstitusional. Ia mengatakan bahwa gagasan ini adalah pengembangan dari teori lama judicial activism yang sudah tidak cocok untuk memotret perkembangan terkini.
Para akademisi hukum mengenal teori judicial activism untuk menjelaskan sikap hakim dalam membuat terobosan demi memenuhi rasa keadilan masyarakat. Terobosan ini menghasilkan putusan yang dianggap agak menyimpang dari batas-batas peraturan perundang-undangan.
(Baca juga: MK Ingat Semua Pihak Sengketa Pileg Hadirkan Saksi/Ahli Berkualitas)
Dalam penelitiannya, Romo Hendri memotret kepemimpinan dan pemikiran para Ketua Mahkamah Konstitusi mulai dari Jimly Asshiddiqie hingga Arief Hidayat. Konsep judicial heroes ini disematkan berdasarkan kemampuan para ketua dalam mempengaruhi hakim-hakim lainnya. Pengaruh ini tentunya dalam makna gagasan-gagasan hukum yang membentuk arah putusan berkualitas.
“Teori saya tidak mengatakan terjadi penurunan kualitas, karena sebenarnya yang terjadi adalah Jimly dan Mahfud adalah sosok yang menjadi pengecualian,” ujar Romo Hendri dalam pengantar diskusi.
Buku ini memang tidak mengulas sama sekali teori-teori hukum. Bisa dikatakan bahwa analisis yang dilakukan dengan teori judicial heroes memetakan sosok hakim yang terlibat dalam menghasilkan putusan. Karakter para Ketua Mahkamah Konstitusi dinilai sangat berpengaruh untuk menghasilkan putusan berkualitas.
Salah satu ulasan Romo Hendri menggambarkan bagaimana konsep putusan konstitusional bersyarat atau inkonstitusional bersyarat dikenalkan. Para ahli hukum kesulitan untuk menyimpulkan bagaimana posisi para hakim konstitusi terhadap undang-undang yang diuji dalam sidang mereka. “Putusan-putusan dalam lima tahun pertama MK sering dianggap ‘banci’, karena dianggap tidak berani,” kata Romo Hendri.
Berdasarkan penelitiannya, ternyata ada pertimbangan lain yang dilakukan oleh Ketua Mahkamah Konstitusi saat itu untuk memenangkan kepentingan yang lebih besar dan bermanfaat untuk masyarakat.
Pembedah buku lainnya, Fritz Edward Siregar memuji hasil penelitian Romo Hendri sebagai karya berkelas internasional pertama tentang Mahkamah Konstitusi yang ditulis oleh orang Indonesia. “Kita mengenal banyak nama seperti Simon Butt atau Melisa Crouch, tapi ini yang pertama ditulis oleh orang Indonesia,” kata anggota Badan Pengawas Pemilu itu.
Fritz menyoroti penelusuran Romo Hendri dalam memetakan latar belakang akademik para hakim mulai dari almamater kampus hingga karya tulis apa yang pernah dibuat. “Ini buku tentang hukum tapi tanpa Hans Kelsen, tapi juga bukan tentang murni politik,” kata Fritz yang pernah bertugas sebagai asisten hakim konstitusi pada periode pertama.
Buku ini diakuinya berhasil memberi deksripsi utuh bagaimana sosok Ketua Mahkamah Konstitusi bekerja keras menjadi hakim sekaligus pemimpin para hakim. Ada pertarungan ‘politik’ gagasan yang harus dikelola sosok Ketua untuk menjalankan tugas mereka sebaik mungkin. Termasuk dalam berhadapan dengan pimpinan cabang kekuasaan lainnya yang tak jarang berusaha mempengaruhi arah putusan Mahkamah Konstitusi secara tidak langsung.
(Baca juga: Sembilan Hakim MK Sang Penentu ‘Gugatan’ Prabowo-Sandi)
Ketua pertama Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie turut hadir memberikan sambutan kunci. “Di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia, kualitas kelembagaan termasuk MK ini memang sangat bergantung figur pimpinan,” katanya.
Jimly mengakui hal tersebut tidak ideal. Seharusnya suatu lembaga bergantung kepada sistem. Ia juga mengapresiasi usaha Romo Hendri memetakan perjalanan Mahkamah Konstitusi selama 16 tahun. Pendekatan analisis terhadap sosok-sosok Ketua dianggap Jimly sebagai hal baru yang memotret kenyataan di Indonesia. Ia mengakui mau tidak mau kehadiran judicial heroes masih sangat diperlukan sambil mematangkan kelembagaan Mahkamah Konstitusi. “Selanjutnya kita harus bergantung kepada sistem, karena kalau tergantung figur itu belum modern,” katanya.
















