Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan pentingnya ketahanan nasional sebagai fondasi menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak global yang kian kompleks. Tekanan geopolitik, perang di Timur Tengah, hingga penguatan dolar AS menjadi tantangan yang perlu direspons melalui sinergi kebijakan nasional.
Perry menyebut konsep ketahanan nasional yang dikembangkan Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) menjadi pijakan penting bagi Indonesia dalam menghadapi tekanan global. Kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dicapai tanpa ketahanan nasional yang kuat.
“Tidak ada bangsa, pertumbuhan, apapun rakyat sejahtera kalau tidak ada ketahanan nasional,” ujarnya dalam sebuah seminar di Jakarta, Selasa (26/5/2026).
Baca Juga:
- Memahami Strategi Restrukturisasi Utang dalam Penanganan Krisis Keuangan Perusahaan
- Precautionary Principle sebagai Kunci Hadapi Ancaman Krisis Sistem Keuangan
Perlambatan ekonomi global mulai terlihat dari penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,4 persen menjadi 3 persen tahun ini. Sejumlah negara maju seperti kawasan Eropa dan Jepang mengalami penurunan pertumbuhan, sementara negara berkembang seperti Tiongkok dan India juga melambat.
“Gejolak global membuat ekonomi dunia turun dan itu menjadi tantangan kita mendorong pertumbuhan ekonomi,” katanya.
Ia menyoroti lonjakan harga minyak dunia yang memberi tekanan pada fiskal negara serta memicu kenaikan harga impor dan inflasi domestik. Di sisi lain, kenaikan suku bunga global, terutama di Amerika Serikat, turut menekan pasar keuangan negara berkembang.
















