Tantangan Danantara dalam Mengubah Ketidakpastian Hukum Jadi Risiko Terukur
Utama

Tantangan Danantara dalam Mengubah Ketidakpastian Hukum Jadi Risiko Terukur

Risiko yang terukur tersebut mencakup pemilihan mitra yang tepat, pemahaman pasar, serta pemanfaatan tingginya minat investor global terhadap Indonesia.

Hanifah Dwi Jayanti
Bacaan 4 Menit

“Investment volatility ini memang masih kita kaji. Apakah akan bisa memberikan return signifikan dalam waktu dekat, tahun ini misalnya, itu masih belum bisa dijawab secara pasti. Tapi ini bagian dari strategi jangka panjang. Kita ingin memastikan bahwa seluruh skema investasi yang ada bisa memberikan kontribusi nyata, tidak hanya dalam bentuk return, tapi juga dampak sosial dan ekologis,” ungkapnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Danantara tengah menyusun fondasi strategis, terutama dari sisi birokrasi dan efektivitas korporasi. Ia menyebut bahwa holding investasi ini akan memaksimalkan efisiensi dalam struktur perusahaan dan penyaluran aset melalui entitas yang paling membutuhkan.

“Kita sekarang ini kan bentuknya korporasi, PT. Bahkan nanti antar entitas di bawah Danantara akan kita review lagi. Induk-induknya akan diarahkan supaya lebih fokus dan tepat sasaran. Birokrasi juga jadi fokus utama. Kita ingin memastikan bahwa tata kelola yang kita bangun berbeda dari sebelumnya,” tegasnya.

Stefanus juga menyinggung pentingnya promosi investasi yang lebih inklusif ke daerah-daerah. Ia menekankan bahwa daerah tidak boleh hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan yang digerakkan oleh investasi nasional.

“Bagaimana caranya agar promosi ke daerah lebih merata? Karena selama ini BUMN yang dikenal secara nasional belum tentu menjangkau daerah. Kita masih dalam tahap membangun strategi ini. Tapi satu yang pasti, daerah harus jadi bagian dari pertumbuhan, bukan hanya objek,” jelasnya.

Ia mengakui bahwa strategi Danantara saat ini masih dalam proses penyusunan, mengingat holding investasi tersebut baru berjalan selama tiga bulan. Namun, ia memastikan bahwa pendekatan terhadap manajemen risiko sedang dibangun secara hati-hati dengan melibatkan pihak-pihak berpengalaman, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Kami sedang menyusun metode manajemen risiko yang optimal untuk mengelola aset sebesar Rp800 triliun. Ini bukan hal mudah. Tapi kita melibatkan banyak ahli, bahkan dari New York, yang sudah sangat berpengalaman,” pungkasnya.

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info