Tantangan S&P Wujudkan Edukasi Hukum yang Inklusif dan Membumi
Terbaru

Tantangan S&P Wujudkan Edukasi Hukum yang Inklusif dan Membumi

Bagi S&P, edukasi ini bukan sekadar kewajiban advokat dalam memberikan layanan probono, tetapi juga panggilan untuk berkontribusi lebih luas untuk mencerdaskan publik.

Tim Publikasi Hukumonline
Bacaan 3 Menit
Founder and Managing Partner S&P, Timoty Ezra Simanjuntak dan Associate di S&P Law Office, Aldo Prasetyo Riyadi. Foto: RES.
Founder and Managing Partner S&P, Timoty Ezra Simanjuntak dan Associate di S&P Law Office, Aldo Prasetyo Riyadi. Foto: RES.

Tak ada aspek kehidupan manusia yang lepas dari hukum. Namun, stigmanya yang rumit, kaku, dan sulit dipahami sering kali jadi alasan banyak orang enggan mempelajari hukum. Tanpa disadari, situasi ini juga berdampak pada potensi peningkatan pelanggaran hukum. Nah, menjadi insan yang melek hukum penting, terlebih untuk menjaga hak dan kewajiban sebagai warga negara. 

 

Kantor Hukum S&P Law Office berupaya untuk mendobrak tembok ini dengan menyediakan akses terhadap edukasi hukum yang lebih inklusif dan membumi. Bagi mereka, edukasi ini bukan sekadar kewajiban advokat dalam memberikan layanan probono, tetapi juga panggilan untuk berkontribusi lebih luas untuk mencerdaskan publik.

 

”Advokat perlu lebih banyak berpartisipasi terhadap edukasi hukum, karena akses ini masih terbatas di masyarakat. Berkolaborasi dengan Hukumonline yang memiliki jaringan luas dan menjadi Mitra Klinik Hukumonline, membantu kami terhubung dengan beragam lapis masyarakat, baik secara kualitas maupun kuantitas,” kata Associate di S&P Law Office, Aldo Prasetyo Riyadi.

 

Namun, dalam praktiknya, tetap ada tantangan dalam mengemas informasi hukum agar tetap menarik dan mudah dipahami. Tak dapat diingkari, ilmu hukum sering kali dipenuhi istilah teknis yang hanya dapat dipahami kalangan tertentu. Menyederhanakan istilah-istilah tersebut tanpa mengurangi substansi pun jadi kesulitan tersendiri. 

 

”Di S&P, setiap jawaban Klinik Hukumonline akan melewati sejumlah tahap. Tahap pertama, inventarisasi sumber. Setelahnya, kami parafrase dengan bahasa yang mudah dipahami. Lalu, tahap terakhir, review. Adapun hal yang paling penting dari itu semua, adalah memastikan seluruh jawaban yang diberikan selaras dengan perspektif pembaca,” Aldo menjelaskan. 

 

Sebagai Mitra Klinik Hukumonline, S&P ingin menyebarluaskan informasi yang dapat menjembatani pemahaman masyarakat awam terhadap isu-isu hukum. Untuk mencapai tujuan tersebut, alih-alih berbicara sebagai ’praktisi hukum’, mereka harus menghindari jargon maupun istilah teknis, lalu menggantinya dengan bahasa yang lebih membumi.

 

Untuk kali kelima, Hukumonline menggelar Hukumonline’s Legal Clinic Awards 2024, pada Jumat (1/11). Tahun ini, Hukumonline Legal Clinic Awards 2024 mengusung tema ‘Bersama Artificial Intelligence, Memasuki Era Baru Praktik Hukum Profesional dan Berintegritas’. Topik ini dipilih lantaran Hukumonline baru saja merilis Generative AI bernama Ask Hukumonline beberapa waktu lalu. 

Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

BERITA TERKAIT

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info