Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) bersama masyarakat akar rumput dari berbagai daerah berbondong-bondong melakukan aksi long march dari Gedung TVRI di Senayan hingga ke depan Gedung DPR RI pada Senin (21/9). Aksi long march ini dilaksanakan sebagai salah satu rangkaian acara peringatan Hari Keadilan Ekologis 2026.
Kepala Departemen Komunikasi Strategis dan Jaringan WALHI Nasional, Dana Prima Tarigan, menyampaikan bahwa Hari Keadilan Ekologis diperingati WALHI setiap tanggal 20 September. Kali ini, WALHI merayakannya bersama 29 eksekutif daerah WALHI di seluruh Indonesia, serta masyarakat yang terdiri atas nelayan, petani, Masyarakat Adat, perempuan, dan anak muda.
"Kita menuntut keadilan, baik itu keadilan antarmanusia dan antargenerasi, maupun hak alam yang selama ini sudah memberi banyak kepada kita,” ujarnya pada Senin (21/9).
Baca Juga:
- Babak Baru RUU Reforma Agraria: Panja Dibentuk, Pemerintah Siapkan DIM
- Koalisi Masyarakat Sipil Soroti Sejumlah Ketentuan dalam RUU Reforma Agraria
Setibanya di Gedung DPR RI, perwakilan dari berbagai komunitas menyampaikan orasi. Salah satunya adalah Inisiator Pejuang Perempuan Padarincang, Eha Suhaeni, yang mengobarkan semangat massa aksi melalui orasinya. Ia mendorong masyarakat untuk bersama-sama menjaga alam Indonesia karena alam merupakan warisan dari perjuangan masyarakat terdahulu.
“Alam tanpa manusia akan tetap ada. Namun, manusia tanpa alam tidak akan ada, akan hancur. Ingatlah wahai para pejabat di negeri ini, baik di pusat maupun di daerah. Kalian harus ingat bahwa ada beras di meja kalian, ada ikan di meja kalian, ada sayuran di meja kalian—itulah hasil bumi dari pekerjaan kita semua!” serunya.
Bukan hanya dari kalangan masyarakat akar rumput, Direktur Eksekutif Nasional WALHI, Boy Jerry Even Sembiring, juga menekankan kegagalan pemerintah dalam menjalankan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (TAP MPR) No. IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA). Bukannya menjalankan mandat pembaruan agraria, negara justru menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8% saat ekonomi Indonesia masih bertumpu pada industri ekstraktif.
















