Waspadai Pinangan Si Bule Kaya
Privatisasi Krakatau Steel:

Waspadai Pinangan Si Bule Kaya

Pengalaman di berbagai belahan dunia membuktikan strategic sales gagal mendongkrak kinerja perusahaan.

Ycb
Bacaan 2 Menit
Waspadai Pinangan Si Bule Kaya
Hukumonline

 

Essar Steel juga berasal dari India. Essar merupakan perusahaan pengekspor baja terbesar di India. Kini korporasi ini menebar jaringan produksi di Kanada, Amerika Serikat, Timur Tengah, serta Asia. Perusahaan merupakan bagian dari Grup Essar. Grup ini juga punya unit usaha energi serta konstruksi. Nilai aset grup ini mencapai AS$50 miliar. Grup ini menghidupi 30 ribu pekerja.

 

BlueScope Steel merupakan perusahaan asal negeri kanguru, Australia. Perusahaan ini lahir dari hasil pemisahan (spin out) dari BHP Billiton. Perusahaan ini mampu meraup omzet Aus$50 miliar. Jumlah pekerjanya 17,5 ribu.

 

Niatan para raksasa baja ini nampaknya untuk menyambut rencana pemerintah yang hendak privatisasi sejumlah perusahaan plat merah. Sejak tahun lalu pemerintah –Menteri Keuangan dan Menteri Negara BUMN- memproyeksi KS sebagai salah satu kompani plat merah yang disapih kepemilikannya pada tahun ini. Cuma, caranya lewat listing di lantai bursa. Alias, penerbitan saham perdana atawa IPO (initial public offerings).

 

Nah, rupanya banyak kalangan yang kurang sreg jika pemerintah ganti haluan soal metode privatisasi itu. Awalnya hendak IPO, kini cenderung ingin strategic partner. Tak tanggung-tanggung, salah satu penolaknya adalah Komisaris Utama KS Taufiequrrahman Ruki. Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ini berpendapat cara mitra strategis hanya jika hendak melepas BUMN yang sudah bobrok. Nyatanya, menurut Ruki, kas KS saat ini mencapai RP1,2 triliun. Perusahaan ini sehat. Untuk apa diprivatisasi? tukasnya dalam sebuah diskusi di Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Selasa (13/5).

 

Pendapat Ruki soal kesehatan korporasi yang punya sepuluh anak perusahaan ini ada benarnya. Dua tahun silam -2006, perusahaan ini boleh berdarah dengan rugi usaha hampir 217 miliar. Rugi bersih kala itu Rp135 miliar. Namun, pada 2007, keadaan berbalik. KS malah meraup untung Rp874 miliar dan menyisakan laba bersih Rp363 miliar. Asetnya pun meningkat dari Rp10,26 triliun menjadi Rp10,48 triliun. Sebaliknya, utang perusahaan justru menyusut dari Rp5,47 triliun jadi Rp5,06 triliun.

 

Majalah BUMN Track Edisi Mei 2008 melaporkan, Direktur Utama KS Fazwar Bujang juga yakin perusahaannya telah segar bugar. KS sudah dikelola dengan sangat efisien. Buktinya, hingga saat ini produk kami jadi market leader, tuturnya kepada media yang dikelola oleh Forum Humas BUMN itu.

 

Namun, Fazwar nampaknya tak seberani Ruki. Fazwar manut saja apa kata sang pemilik, dalam hal ini pemerintah. Soal bagaimana cara privatisasinya, biarlah yang memutuskan pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat, sambungnya. DPR yang menangani rencana privatisasi adalah Komisi VI (bidang industri, perdagang, dan BUMN) bersama Komisi XI (bidang perbankan dan keuangan negara).

 

Tabel

Beragam contoh kegagalan strategic sales

Benua

Negara

Kasus

Eropa

Bosnia, 2007

Pekerja Mittal Steel Zenica mengancam mogok massal tanpa batas waktu mulai 13 Sepember. Penyebabnya, tuntutan gaji mereka tidak mencapai kesepakatan.

 

Inggris, 2007

Biaya akuisisi sebesar AS$11 miliar oleh Tata Steel terhadap Corus menyebabkan Tata menanggung beban utang pada tahap kritis.

 

Luksemburg, 2007

Hostile takeover oleh Mittal terhadap Arcelor menimbulkan masalah kompleks, termasuk ketidaknyamanan politik.

 

Prancis, 2008

Amuk massa pekerja Arcelor Mittal menghancurkan pabrik di Gandrange. Pemicunya, efisiensi yang mengakibatkan pemecatan atas 575 pekerja.

Asia

India, 2007

Terindikasi, Mittal sedang melakukan aksi korporasi yang mendorong Tata Steel menuju kebangkrutan.

 

Indonesia

Ispat (Mittal Grup) menghadapi permasalahan dengan serikat pekerja. Karyawan mogok selama enam bulan lantaran kebijakan penurunan gaji sebesar 50%. CEO Ispat, Mr. Banka, masuk dalam daftar pencarian orang.

Afrika

Afrika Selatan, 2007

Mittal South Africa terkena denda AS$96 juta karena telah melakukan pengaturan harga baja. Mittal menguasai 80% pasar baja di negara itu.

 

Nigeria, April 2008

Presiden maru Yar'Adua membatalkan penjualan BUMN aja terbesarnya, Ajaokuta Steel. Penyebabnya, didapati banyak kasus penipuan dan penyalahgunaan dalam proses pengambilalihan oleh Mittal pada 2004.

Amerika

Trinidad and Tobago, Maret 2008

Protes dan ancaman mogok karena Mittal belum memenuhi janji menetapkan program kepemilikan saham oleh karyawan. Program ini janji Mittal sejak 14 tahun silam yang belum terwujud.

 

Kanada, 2007

Akuisisi Essar terhadap Algoma Steel menyisakan kontroversi. Perusahaan ini dijual dengan harga rendah serta Essar menjadi penawar tunggal.

Dari berbagai sumber

 

Ruki menambahkan, di balik klausul mitra strategis itu, tentu ada maksud tertentu sehingga akhirnya perusahaan pembeli dapat menguasai secara mayoritas. Tentu mereka menuntut hak istimewa, timpalnya. Sejumlah hak itu antara lain menempatkan direksi dan komisaris, hak suara meski hanya memiliki saham minoritas, serta hak pre-emptive. Hak yang terakhir inilah yang jadi kuncinya. Dengan demikian, jika KS hendak jualan saham lagi, saham tersebut kudu ditawarkan pertama kalinya kepada si mitra strategis itu.

 

Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera Zulkieflimansyah menandaskan straegic sales lebih banyak menimbulkan kerugian. Saya sudah lama belajar mendalami alih teknologi. Alasan alih teknologi itu seringkali gagal dengan cara mitra strategis, tutur anggota Komisi VII (bidang energi dan lingkungan). Zulkiefli akan menginstruksi koleganya yang duduk di Komisi VI dan XI untuk menolak privatisasi dengan cara ini. Biarkan KS solid dahulu. Kalaupun privatisasi, dengan cara IPO di bursa, tegasnya.

 

Anggota DPD Marwa Batubara mengamini pendapat Ruki maupun Zulkiefli. Menurut anggota dari daerah DKI Jakarta ini, sudah banyak contoh Indonesia kehilangan aset strategisnya. Salah satunya, kasus pivatisasi Indosat. KS merupakan salah satu aset penting, timpalnya.

 

Ekonom asal Institut Pertanian Bogor (IPB) Iman Sugema memaparkan ada dua pola pengelolaan BUMN. Pertama, jor-joran jualan seperti di Inggris yang diawali pada era Thatcher. Kedua, ala Asia Timur, adalah kebalikannya. Bikin holding guna mencaplok perusahaan lainnya. Buktinya adalah holding Temasek di Singapura serta Khazanah Bhd di Malaysia. Bahkan, Temasek kini telah mencaplok sejumlah bank dan BUMN kakap, termasuk di Indonesia. Harusnya Indonesia meniru langkah ini. Bukannya berpaling ke cara Inggris, desaknya.

 

Ketua Serikat Karyawan Krakatau Steel, Budi Santoso, menekankan kesejahteraan karyawan. SKKS beranggotakan enam ribu karyawan. Privatisasi boleh asal menyejahterakan karyawannya. Dan strategic sales bukan caranya, tukasnya.

 

Sekadar berbagi pengalaman, Telkom juga mengalami hal yang sama. Bermitra dengan perusahaan besar malah bikin bobrok, celetuk Wisnu Adhi, Ketua Serikat Karyawan Telkom (Sekar Telkom).

 

Wisnu bercerita, Telkom terbagi menjadi tujuh divisi regional (divre). Lima divre menjalankan kerja sama operasional (KSO). Walhasil, kelimanya kini kapiran. Hanya wilayah DKI Jakarta dan Jawa Timur yang masih bagus. Padahal, mitra operasional tersebut adalah perusahaan semacam SingTel (Temasek Holding), US West, serta France Telecom.

 

Mereka sepakat, mitra perusahaan kakap bukan jaminan. Bukannya mendongkrak kinerja BUMN yang diambil-alih. Justru perusahaan besar itu tak mau kita maju. Soalnya keuntungan terbesar tetap mereka yang menikmati, ujar Ruk, Iman, Marwan, Budi, Zulkiefli, serta Wisnu.

 

Nah, kini keputusan ada di tangan pemerintah bersama parlemen. Akankah anjing menggonggong kafilah berlalu? Lain kata, meski banyak kalangan menolak, privatisasi tetap jalan?

 

Krakatau Steel (KS) ibarat gadis cantik yang tengah menyedot perhatian para lelaki. Tak tanggung-tanggung, para kumbang yang tertambat hati pada si bunga adalah perusahaan gergasi dari manca –perusahaan multinasional.

 

Setidaknya ada empat bule yang menaruh minat pada BUMN penghasil 2,5 juta ton baja per tahun ini. Mereka adalah Arcelor Mittal, Tata Steel, Essar Steel, serta BlueScope. Mereka berlomba meminang KS lewat cara pembelian saham sebagai pembeli tunggal alias straegic sales. Yang tersebut pertama, seperti diberitakan oleh berbagai media, adalah perusahaan yang paling ngebet menyunting KS.

 

Arcelor Mittal merupakan perusahaan milik konglomerat Inggris kelahiran India, Lakshmi Mittal. Mittal kini menjadi orang terkaya di negeri Sungai Thames itu. Total asetnya mencapai 27,7 miliar poundsterling atau setara RP475 triliun. Mittal sejak April lalu merapatkan diri ke Pemerintah Indonesia. Menteri Perindustrian Fahmi Idris serta Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Muhammad Lutfi bersedia mengantarnya menemui presiden dan wakil presiden. Tak tanggung-tanggung, Mittal hendak menguasai 35-40% saham KS. Mittal berjanji hendak memodernisasi KS seperti yang dia lakukan di India, Rusia, Mozambik, Nigeria, Turki, Eropa, serta Ameria Latin.

 

Tata Steel merupakan bagian dari Grup Tata, perusahaan asal India. Grup ini bergerak di bidang teknologi informasi, kimia, energi, dan lain-lain. Grup ini telah membelukar di 98 negara. Berdiri sejak 1907, kini perusahaan baja itu mampu memproduksi empat juta ton baja per tahun. Untuk program modernisasi dan efisiensi produksi, Tata Steel menggelontorkan dana $2,3 miliar. Tak ayal, perusahaan ini merupakan raksasa baja keenam di dunia.

Halaman Selanjutnya:
Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info