Senin, 01 Pebruari 2010

Lagi, Ada Korban Salah Tangkap

Chaerul Saleh, seorang pemulung di Jakarta, diduga menjadi korban salah tangkap. Dalam persidangan terungkap sejumlah kejanggalan. Tiga orang saksi dari kepolisian yang disebut dalam dakwaan, dalam persidangan menyatakan tidak pernah menandatangani BAP sebagai saksi
Mon
Nasib Chaerul akan ditentukan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Foto: Sgp









Korban salah tangkap kembali terjadi. Kali ini menimpa seorang pemulung di Jakarta, Chaerul Saleh Nasution. Ia dituding memiliki ganja seberat 1,6800 gram yang ditemukan di pinggir rel kereta api di kawasan jalan Benda, Kemayoran, Jakarta Pusat. Di tempat itulah, Chaerul tinggal. Lantaran kedapatan memiliki ganja, kini Chaerul mendekam dalam penjara. Saat ini persidangan perkara masih tahap pemeriksaan saksi. Sidang dipimpin oleh Syarifuddin di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

 

Saat persidangan muncul fakta baru. Penasihat hukum terdakwa, Raja Nasution menyatakan perkara disidangkan atas Berita Acara Pemeriksaan (BAP) palsu. “Kami menduga ada penyalahgunaan profesi dan kewenangan penyidik,” kata Raja saat ditemui di pengadilan, Senin (1/2).

 

Tiga orang saksi yang disebut dalam dakwaan, dalam persidangan menyatakan tidak pernah menandatangani BAP sebagai saksi. Mereka adalah Hari Satria, Lasmen Tanjung, Wahyu Muryanto. Ketiganya merupakan anggota polisi. Ketiganya juga mengaku tak pernah menangkap terdakwa. Keterangan itu diberikan setelah sebelumnya ketiga saksi mangkir lima kali atas panggilan pengadilan. Majelis hakim akhirnya mengeluarkan Surat Penetapan Pemanggilan secara Paksa agar saksi hadir pada persidangan 25 Januari 2010. Kecurigaan pun muncul dibenak majelis hakim. Majelis menduga ada pemalsuan surat dan tanda tangan para saksi.

 

Chaerul sendiri mengaku bahwa isi BAP terdakwa tidak sesuai dengan apa yang disampaikan ketika memberikan keterangan di depan penyidik. Menurut Chaerul, seperti yang diungkapkan Raja, ganja itu bukan milik Chaerul. Ganja itu sudah berada di rumahnya ketika ia pulang memulung pada malam 3 September 2009. Sesampainya di rumah, ada dua orang yang telah menunggunya di rumah. “Hebat kau yah, ternyata bisnis kau tingkat tinggi juga ya! Punya siapa ganja ini?” ujar seorang yang diduga polisi kepada Chaerul. Lelaki 38 tahun itu menyatakan tidak tahu.

 

Lantaran tak mau mengaku, Chaerul pun digelandang ke kantor polisi dengan menggunakan bajaj. Namun belum sampai ke tujuan, Chaerul dan si polisi turun di tengah jalan dan lalu naik taksi. Di mobil itulah, Chaerul dipaksa mengakui kepemilikan ganja itu. Pukulan pun tak jarang mampir ke wajah Chaerul. Namun Chaerul tetap bergeming, ia tidak mau mengakui. Si polisi itu lalu meminta uang Rp5 juta sebagai kompensasi pembebasan. Lagi-lagi, Chaerul menolak.

 

Chaerul akhirnya dibawa ke Polsek Kemayoran. Penyidik bernama Rusli kemudian memberi uang Rp100 ribu kepada si polisi. Raja Nasution menduga si penangkap hanya berpura-pura sebagai polisi. Di depan penyidik, Chaerul kembali membantah memiliki ganja itu. Penyidik kemudian menyodorkan BAP dan meminta Chaerul menandatangani tanpa membaca isinya.

 

Satu Pasal

Meski dituding memiliki ganja, jaksa Supardi hanya membidik Chaerul dengan satu dakwaan saja. Yakni, Pasal 78 ayat (1) huruf a UU No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Pasal itu melarang orang secara melawan hukum dan tanpa hak menanam, memelihara, mempunyai dalam persediaan, memiliki, menyimpan atau menguasai golongan I dalam bentuk tanaman. Ancaman pidananya minimal dua tahun penjara, maksimal 12 tahun, sedang denda minimal sebesar Rp25 juta dan maksimal Rp750 juta.

Halaman Selanjutnya
Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua