Senin, 08 November 2010

Komnas HAM: Blitzmegaplex Terindikasi Melanggar Hak Pekerja

Mulai dari melarang penggunaan kerudung hingga ketiadaan serikat pekerja.
IHW
Komnas HAM Blitzmegaplex terindikasi melanggar hak pekerja, Foto: Sgp

Niat Ayudia Satta melaporkan Blitzmegaplex -perusahaan tempatnya bekerja ke Komnas HAM, benar-benar dilakukan. Didampingi pengacara publik dari LBH Jakarta, Senin (8/11) Ayu mengadukan tindakan manajemen perusahaan yang melarangnya mengenakan jilbab.

 

Anggota Komnas HAM, Johny Nelson Simanjuntak mengaku menemukan indikasi adanya pelanggaran hak asasi yang dilakukan Blitzmegaplex. “Hak beragama dan menjalankan ibadah adalah hak asasi yang tak bisa dikurangi dalam keadaan apapun,” kata Johny kepada hukumonline usai menerima pengaduan Ayu.

 

Komnas HAM, lanjut Johny, akan segera menindaklanjuti pengaduan Ayu. “Paling lambat lusa (Rabu) kami akan mengirimkan surat kepada pihak manajemen Blitzmegaplex untuk meminta klarifikasi mengenai hal ini.” Bahkan juga tak tertutup kemungkinan pihak manajemen bakal dipanggil dan dipertemukan dengan pengadu.

 

Tak hanya itu, Komnas HAM juga bakal berkirim surat kepada pihak Dinas Tenaga Kerja Jakarta Selatan untuk meminta pengawasan terhadap perusahaan. “Selain masalah pelarangan jilbab ini, kami juga meminta agar pihak Dinas Tenaga Kerja untuk mengawasi bagaimana pelaksanaan hak-hak pekerja di sana.”

 

Seperti diberitakan sebelumnya, Ayu mengadukan Blitzmegaplex karena ia dilarang mengenakan jilbab saat bekerja. Ayu yang bekerja di perusahaan bioskop itu sejak Desember 2006 menuturkan perkara ini berawal sekira empat bulan lalu. Tepatnya pada awal Juli 2010.

 

“Pada tanggal 3 Juli 2010 saya datang ke kantor dengan menggunakan jilbab,” aku Ayu yang terakhir menjabat sebagai supervisor operasional di Blitzmegaplex Teraskota Mall Serpong ini.

 

Pihak manajemen, berdasarkan cerita Ayu, lantas memanggilnya atas penampilan busana Ayu. “Saya disuruh memilih. Melepaskan jilbab pada saat bekerja atau mengundurkan diri,” kata Ayu. “Karena saya tak mau melepaskan jilbab, lalu pada tanggal 5 Juli, saya dirumahkan oleh pihak manajemen dengan alasan saya disuruh menghabiskan hak cuti saya.” Merasa haknya menjalankan ibadah dengan mengenakan jilbab dibatasi, Ayu lantas meminta bantuan hukum ke LBH Jakarta.   

 

Pengacara LBH Jakarta, Kiagus Ahmad menuturkan upaya berdialog dengan pihak manajemen bukannya tak dilakukan. Beberapa kali ia berunding dengan pihak manajemen. “Tapi tampaknya pelarangan berjilbab adalah harga mati untuk mereka. Bahkan tawaran kami agar memodifikasi jilbab kalau dianggap mengganggu kerja karyawan, juga tak digubris,” kata Kiagus

 

Masalah jilbab belum selesai, muncul persoalan baru. Perusahaan malah mengeluarkan kebijakan dengan memindahkan (mutasi) Ayu ke Bandung terhitung sejak 1 November lalu. “Tapi terlihat tindakan memutasi adalah upaya untuk membuat Ayu tak betah di perusahaan, lalu mengundurkan diri. Sebab, perusahaan belum mengkoordinasikan pemutasian ini ke Blitz Teraskota maupun Bandung.”

 

Langgar hak lain

Berdasarkan catatan Komnas HAM, kasus pelarangan berjilbab di tempat kerja bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya, juga ada kasus serupa di rumah sakit dan pabrik tekstil. “Namun akhirnya penggunaan jilbab dalam kasus sebelumnya masih bisa ditoleransi karena alasan keamanan dan keselamatan. Baik bagi pekerja yang bersangkutan, atau pasien rumah sakit,” kata Johny.

 

Sedangkan dalam perkara ini, lanjut Johny, tak ditemukan alasan yang membenarkan pihak perusahaan melarang Ayu berjilbab. “Tadi disebutkan bahwa yang bersangkutan (Ayu) tidak berhubungan langsung dengan konsumen, atau bekerja di pabrik. Lalu apa alasannya melarang jilbab?”

 

Selain itu, Johny juga mencium adanya pelanggaran hak pekerja yang lain di Blitzmegaplex. Salah satunya adalah hak pekerja untuk membentuk serikat pekerja. “Padahal jumlah karyawannya banyak, kenapa tidak ada serikat pekerjanya?”

 

Sampai berita ini diturunkan, pihak PT Graha Layar Prima sebagai pengelola Blitzmegaplex belum mau berkomentar. Manajer HRD Blitzmegaplex, Maria Theresia Widyastuti menyarankan hukumonline untuk berkomunikasi dengan Manajer Marketing Invani Suryaji. Namun ketika dihubungi lewat telepon ke kantor, seorang staf marketing Blitzmegaplex menuturkan pihak manajemen belum bisa memberi keterangan resmi.

diskriminasi
 - nunk
09.11.10 09:36
mo ibadah koq susah,...
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua