Penyerangan Komunitas Syiah Sampang Dikecam
Berita

Penyerangan Komunitas Syiah Sampang Dikecam

Pemerintah dinilai tidak serius melindungi kelompok minoritas.

Ady
Bacaan 2 Menit
Wakil Direktur HRWG, Choirul Anam. Foto: Sgp
Wakil Direktur HRWG, Choirul Anam. Foto: Sgp

Komunitas Syiah di dusun Nangkernang, desa Karang Gayam, kecamatan Omben, kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur kembali diserang. Serangan serupa sempat terjadi pada akhir tahun lalu. Sayangnya, dalam serangan yang terjadi pada hari minggu (26/8) kemarin menewaskaan satu orang warga dari komunitas Syiah bernama Hamamah alias Muhammad Khosim. Sedangkan puluhan warga Syiah lainnya terluka dan rumah mereka ikut dirusak serta dibakar.
Menurut Koordinator KontraS Surabaya, Andi Irfan, penyerangan bermula ketika sejumlah anak-anak komunitas Syiah Sampang berangkat sekolah ke pesantren yang berlokasi di luar wilayah Sampang. Ada juga warga yang hendak bersilaturahmi ke tempat kerabatnya di luar desa. Namun ketika mereka berjalan keluar desa dengan menggunakan mobil, puluhan orang anti-Syiah menghadang dan mengancam membakar mobil.

Setelah berkumpul dalam jumlah yang banyak, ratusan massa anti-Syiah menyerang komunitas Syiah. Andi menggambarkan, lokasi yang diserang masih tampak jelas bekas serangan yang dilakukan kelompok anti-Syiah pada Desember tahun lalu.

"Rumah tinggal mereka adalah bangunan sederhana sisa dari puing-puing komplek rumah dan pesantren milik Ustad Tajul Muluk yang dibakar pada akhir Desember 2011 lalu," kata Andi menjelaskan kondisi pemukiman komunitas Syiah di Sampang yang diserang kepada hukumonline lewat pesan singkat, Senin (27/8).

Pria yang memantau lokasi kejadian sejak serangan meletus itu menuturkan masih banyak komunitas Syiah di Sampang yang terpencar karena menyelamatkan diri. Sebagian dari mereka ada yang berlindung di hutan dan lokasi lainnya yang dianggap aman.

Terpisah, sejumlah organisasi masyarakat sipil (LSM) yang beraliansi dalam Aliansi Solidaritas Kasus Sampang mengutuk penyerangan tersebut. Menurut aliansi yang sedikitnya terdiri dari sepuluh organisasi itu menilai penyerangan dilakukan secara sistematis. Di mulai sejak penyerangan bulan Desember 2011 dan pengkriminalisasian terhdap Ustad Tajul Muluk. Ironisnya, aparatur negara dirasa tidak berdaya menjamin keamanan, perlindungan dan penegakan hukum bagi kelompok minoritas, termasuk penganut Syiah. Akibatnya, serangan kembali terjadi.

Menurut Direktur YLBH Universalia, Hertasning Ichlas, sistematisnya serangan terhadap komunitas Syiah di Sampang dapat terlihat dari upaya pengusiran yang dilakukan kelompok anti-Syiah. Puncak keberhasilan kelompok penyerang menurut Ichlas terjadi ketika proses pengkriminalisasian terhadap Ustad Tajul Muluk berhasil. Sehingga Tajul diputus bersalah karena dianggap melakukan penodaan terhadap agama. Ichlas menegaskan Ustad Tajul Muluk mengajukan banding atas putusan itu.

Mulanya, Ichlas mengira hanya Ustad Tajul Muluk yang menjadi target kelompok anti-Syiah. Namun penyerangan yang terjadi kemarin menunjukkan bahwa perkiraannya itu salah. Para kelompok anti-Syiah menurut Ichlas menyerang semua kelompok Syiah yang ada di Sampang. Ichlas khawatir peristiwa serupa akan berulang kembali, pasalnya aparat berwenang dinilai tidak mampu melakukan langkah tegas untuk menegakkan hukum dan melindungi korban.

Halaman Selanjutnya:
Tags:
Hukumonline Newsroom

Kami Hadir di Instagram

Dapatkan kabar berita pilihan melalui feeds Instagram Hukumonline Newsroom

2026 Hak Cipta Milik Hukumonline.com
Cookies Info