Berita

Nudirman Munir Bicara Capres Cawapres

Golkar harus berani mengusung cawapres menghadapi Pemilu Presiden dan wakilnya (Pilpres).
Oleh:
ADY
Bacaan 2 Menit
Nudirman Munir Bicara Capres Cawapres
Hukumonline
Menjelang Pilpres, berbagai partai politik (parpol) peserta Pemilu 2014 sibuk mencari koalisi. Sikap Demokrat dan Golkar ditunggu banyak pihak. Rapat pimpinan nasional kedua partai akan menentukan arah koalisi.
 
Salah satu yang disorot adalah Golkar. Sebab, sampai saat ini partai pemenang kedua Pemilu legislatif (Pileg) 2014 itu belum menentukan secara resmi parpol mana yang diajak berkoalisi. Menurut anggota Komisi III DPR Fraksi Golkar, Nudirman Munir, ada beberapa opsi politik yang dapat diambil Golkar dalam menghadapi Pilpres 2014.
 
Pertama,  mengacu hasil perolehan suara dalam Pileg 2014 Golkar hanya meraih 14,75 persen dan mendapat 91 kursi DPR. Golkar tidak mungkin mengusung capres tanpa koalisi. Mengingat elektabilitas Ketua Umum Golkar, Aburizal Bakrie (ARB) yang sejak 2012 dideklarasikan sebagai capres yang diusung Golkar tidak signifikan maka harus ditempuh langkah lain. Misalnya, Golkar mengusung tokoh di luar Golkar untuk maju sebagai capres.
 
Kedua, Golkar terlalu percaya diri dengan kader-kadernya. Bahkan, karena percaya diri beberapa kader Golkar mencalonkan diri sebagai capres, seperti Wiranto dan Prabowo. Dengan kepercayaan diri itu Golkar mendeklarasikan ARB menjadi capres sejak dua tahun lalu. Namun, langkah itu ternyata tidak mampu mendongkrak elektabilitas ARB di tengah masyarakat.
 
Melihat kondisi itu Nudirman menilai pimpinan Golkar berpikir ulang terhadap pencapresan ARB. Ujungnya rapat pimpinan nasional (rapimnas) Golkar dipercepat. Dalam rapimnas itu bakal dibahas apakah Golkar tetap mengusung ARB menjadi capres atau harus berkoalisi dengan partai lain. Tapi ia menekankan Golkar mesti berpikir apakah ada parpol yang mau berkoalisi jika ARB tetap maju sebagai capres.
 
Pasalnya, Nudirman menandaskan, ada anggapan kalau ARB menjadi capres maka parpol atau koalisi akan kalah. Oleh karenanya ia berpendapat apakah mungkin ARB mengikuti kebijakan mantan Ketua Golkar, Akbar Tandjung, yang ketika itu tidak maju menjadi capres dalam Pemilu 2004 tapi mendukung pasangan Mega-Hasyim. Ia menyebut posisi Akbar saat itu sebagai King Maker.
 
Nudirman mengusulkan opsi ketiga bagi Golkar yaitu mengusung cawapres, bukan capres. Menurutnya pilihan itu paling memungkinkan. Sebab ia melihat Golkar punya tujuh kandidat yang layak diusung sebagai cawapres. Diantaranya Agung Laksono dan Priyo Budi Santoso. Tapi tidak menutup kemungkinan Golkar mengusung tokoh dari luar partai jika elektabilitas tokoh tersebut signifikan. “Kalo sama Abraham Samad saya berpendapat itu peluangnya lebih besar menang,” katanya dalam diskusi di Jakarta, Jumat (16/5).

Munir menyarankan ARB belajar dari Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Yaitu tidak maju sebagai capres tapi menyerahkannya kepada kader muda yaitu Joko Widodo (Jokowi). Alternatif itu lebih memungkinkan daripada Golkar memajukan ARB sebagai capres yang elektabilitasnya cenderung turun. Ia berpendapat untuk berkoalisi dengan PDIP, Golkar perlu mengusung cawapres berusia muda. Sebab jika Presidennya berusia muda tapi wakilnya lebih tua ia khawatir bakal terjadi hambatan di tengah jalan. “Berani apa tidak Golkar ajukan Abraham Samad sebagai tokoh alternatif. Jokowi dan Samad itu sama-sama muda,” urainya.
 
Pada kesempatan yang sama politisi senior Golkar, Zainal Bintang, menyebut kondisi internal mengalami krisis. Dampaknya, hasil Pemilu legislatif (Pileg) lalu golkar tidak mencapai target. Padahal Golkar menargetkan meraih 35 persen atau 184 kursi DPR. Namun, hasil Pileg 2014 Golkar hanya memperoleh 91 kursi DPR. Untuk itu kinerja kepemimpinan Golkar saat ini patut dipertanyakan.
 
Menanggapi arah koalisi Golkar pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing, mengatakan satu-satunya pilihan yang memungkinkan adalah merapat ke PDIP. Jika hal itu dilakukan maka Golkar tidak dapat mengajukan capres tapi cawapres.
 
Untuk membentuk poros baru Emrus memprediksi ditengah waktu yang tersisa peluangnya sangat kecil. Kemudian jika poros baru itu dapat dibentuk dan mengusung ARB sebagai capres ia menghitung ongkos politik yang dibutuhkan sangat besar. “Nilai jual (elektabilitas) ARB tidak signifikan,” paparnya.
 
Apalagi posisi Golkar sebagai pemenang peringkat dua dalam Pileg bagi Emrus cukup layak jika yang diusung adalah cawapres. Sebagaimana Munir ia juga melihat Golkar punya sederet kader yang bisa dimajukan sebagai cawapres untuk mendampingi Jokowi. Tentu saja cawapres itu harus berusia muda karena ia yakin tokoh muda lebih pro aktif dan kreatif membuat terobosan. “Alangkah bijaksananya Golkar tawarkan cawapres ke PDIP tokoh muda. Kalau tokoh tua yang disodorkan itukan tidak pas sama Jokowi,” pungkasnya.
Berita Terkait