Kamis, 12 May 2016

Tips Bagi Konsumen Jika Ingin Beli Apartemen

Intinya, teliti sebelum membeli.
FNH
Bangunan apartemen. Foto: Sgp
Berhati-hatilah membeli apartemen atau rumah susun. Jika salah langkah, keinginan mendapatkan tempat tinggal secara praktis justru bisa merepotkan Anda selaku konsumen. Bukan tidak mungkin uang yang sudah dibelanjakan ludes gara-gara apartemen yang dibeli tak jadi dibangun atau perusahaan developernya dinyatakan pailit.
 
Dua orang notaris senior, Alwesius dan Pieter Latumeten, menyampaikan sejumlah tips, yakni hal-hal yang perlu diperhatikan calon pembeli. Tentu saja, ini hanya sebagian dari hal yang harus diperhatikan. Apa saja yang penting?
 
Pertama, kenali developer atau perusahaan yang membangun apartemen. Perusahaan bonafid atau perusahaan yang punya riwayat hitam? Alwesius mengatakan sebelum memutuskan untuk membeli unit apartemen, konsumen harus mengetahui developernya. Konsumen harus teliti untuk memilih developer agar tak terjebak permasalahan pasca pembelian unit.
 
“Harus kenal developer, semua harus clear, diteliti dengan baik. Dan kita secara umum juga sudah tahu, apartemen mana yang bermasalah, mana yang tidak,” kata notaris senior, Alwesisus, kepada hukumonline.
 
Kedua, konsumen harus mengetahui status kepemilikan lahan. Sebelum membeli, pastikan lahan yang akan dibangun tersebut sudah dimiliki oleh developer. Jangan sampai Anda membeli unit padahal apartemen itu dibangun di atas lahan milik orang lain.
 
Notaris yang juga akademisi Magister Kenotariatan (MKN) Universitas Indonesia UI, Pieter Latumeten, mengatakan semua surat yang berhubungan dengan kepentingan penjualan rumah susun atau apartemen haruslah atas nama developer. “Kalau penjualan, semua surat menyurat harus atas nama developernya,” jelas Pieter.
 
Ketiga, pastikan pembangunan apartemen sudah memenuhi seluruh perizinan seperti Izin Mendirikan Bangunan (IMB), izin lokasi, dan memiliki sertifikat induk. Salah satu syarat untuk melakukan perikatan jual beli adalah IMB.
 
Keempat, konsumen harus memastikan jaminan atas kredit rumah susun atau apartemen yang akan dibeli. Alwesius mengatakan, pada dasarnya tak ada masalah jika unit yang akan dibeli dijaminkan ke pihak bank. Letak masalahnya adalah jika properti yang dibeli oleh konsumen ternyata masih menjadi jaminan atas utang developer. Jika demikian, properti yang sudah dibeli oleh konsumen bisa disita bank jika pihak pengembang tidak sanggup membayar utang, atau melarikan diri.
 
“Kalau beli kredit atau utang, (sertifikat) dijaminkan untuk kredit yang kita peroleh. Konsumen harus tanya, saya beli bisa langsung diroya atau tidak, tanya ke bank yang kasih kredit. Proses roya harus jelas karena rumah yang kita beli harus terbebas dari utang developer karena memang hukumnya begitu,” tambahnya.
 
Kelima, pahami soal perikatan jual beli. Perikatan jual beli dilakukan jika sertifikat induk belum dipecah oleh developer. Syarat perikatan jual beli adalah IMB, keterbangunan 20 persen dari seluruh, utilities, dan memiliki fasilitas umum.
 
Menurut Pieter, konsumen perlu mengecek semua dokumennya. Konsumen perlu memastikan bahwa sudah ada pembangunan minimal 20 persen. “Kalau mau aman tunggu satuan rusunnya selesai. Tunggu saja developer jual, tapi enggak mungkin karena developer perlu dana sehingga dibuatlah konstruksi pengikatan jual beli,” jelas Pieter.

Keenam, konsumen harus datang ke lokasi. Menurut Pieter, konsumen yang ingin membeli properti harus datang langsung ke lokasi. Jika lahan masih kosong, maka konsumen diminta untuk pikir-pikir membeli rusun atau apartemen, karena perikatan jual beli menyaratkan keterbangunan 20 persen.

Hati-hati membuat perikatan tanpa tahu apakah sertifikat sudah dipecah atau belum; apakah sudah ada keterbangunan 20 persen atau belum; ada IMB atau tidak; ada fasilitas umumnya atau tidak. Pieter menyarankan pastikan pula sudah sejauh mana pembangunan dan kapan selesai pembangunan, perlu kepastiannya. “Kalau datang ke lokasi masih tanah kosong jangan dibeli dulu,” pungkasnya.
Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua