Minggu, 21 Januari 2018
Gelar Pembekalan, Ini Pesan bagi Calon Hakim Alumni FH UI
Mulai bergantung keteguhannya menegakkan keadilan dan menjaga kejujurannya, tidak tergiur godaan harta benda, mewujudkan keadilan menjadi hal utama, hingga bisa menjadi penggerak perubahan dalam dunia peradilan.
Norman Edwin Elnizar
Gelar Pembekalan, Ini Pesan bagi Calon Hakim Alumni FH UI
Usai acara pembekalan Calon Hakim Alumni FH UI Tahun 2017 di Kampus FH UI Depok, Sabtu (20/1). Foto: NEE

Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (ILUNI FH UI) bekerja sama dengan  Dekanat FH UI menggelar sarasehan sekaligus pembekalan bagi para alumni yang baru dinyatakan lulus seleksi calon hakim tahun 2017. Acara pembekalan ini juga mengundang para alumni yang berprofesi sebagai hakim agar kelak para alumni FH UI dapat mengemban amanah Wakil Tuhan dengan sebaik-baiknya demi mewujudkan peradilan bersih.

 

“Melihat rekrutmen calon hakim yang sekarang ini amat membanggakan. Yang lebih membanggakan lagi 80 alumni FH UI diterima, dalam sejarah FH UI ini barangkali jumlah yang terbesar,” ujar Ketua ILUNI FH UI, kata Ahmad Fikri Assegaf, dalam sambutannya di hadapan peserta pembekalan.

 

Fikri yang sehari-hari berkarir sebagai corporate lawyer merasa bangga bahwa kini alumni FH UI telah semakin banyak berkarya di sektor publik, khususnya dalam bidang peradilan. Menurutnya, ada harapan besar yang dititipkan kepada para alumni FH UI sebagai kampus hukum tertua dan terbaik di tanah air untuk aktif berkontribusi mengawal pembaharuan hukum Indonesia.

 

Dari pengalaman Fikri ikut serta berbagai proyek pembaharuan hukum, rekrutmen calon hakim menjadi persoalan hulu (awal) yang menimbulkan segala carut marut dunia peradilan di tanah air. Sosok hakim sebagai pembuat putusan akhir dari setiap perkara di pengadilan memiliki peran vital dalam menegakkan keadilan yang didambakan para pencari keadilan.

 

“Perjalanan masih panjang, jangan berpikir Anda cuma calon hakim yang ditempatkan di berbagai daerah, Anda adalah awal dari tonggak perbaikan lembaga peradilan kita berikutnya,” tegas Fikri disambut tepuk tangan para calon hakim yang hadir dalam sarasehan sekaligus pembekalan Sabtu (20/1) kemarin di kampus FH UI Depok. Baca Juga: 2018, MA Bakal Rekrut 1.000 Calon Hakim

 

Pernyataan Fikri ini dibenarkan Dekan FH UI Prof Melda Kamil Ariadno. “Belum pernah terjadi begitu banyak calon hakim dari lulusan FH UI, ini merupakan satu kebanggaan bagi fakultas kita, semoga bisa membawa keharuman bagi nama fakultas,” ujarnya dalam sambutan selaku Dekan.

 

Minimnya minat lulusan FH UI yang berkarya di lembaga peradilan sebagai hakim telah menjadi perhatian serius para dosen dan Guru Besar FH UI sejak lama. Terakhir kali rekrutmen calon hakim pada 2010 (sebelum akhirnya dibuka kembali pada tahun 2017 lalu), lulusan FH UI yang mendaftarkan diri menjadi calon hakim bisa dihitung dengan jari.  

 

Keluhan umum para alumni karena merasa ragu bisa bertahan dengan beban besar amanah sebagai hakim di tengah buruknya mekanisme rekrutmen hakim yang diwarnai sogok menyogok, hingga jaminan kesejahteraan yang memprihatinkan kala itu. Para alumni FH UI yang menjadi calon hakim tahun 2017 sebelumnya berasal dari beragam latar belakang, yang tersebar di lingkungan peradilan umum, tata usaha negara, dan peradilan agama.

 

Hasil wawancara Hukumonline, diantara calon hakim 2017 alumni FH UI, beberapa tahun sebagai corporate lawyer, in house counsel perusahaan swasta multinasional, peneliti di NGO besar, staf di berbagai kementerian, bahkan tenaga ahli DPR RI. Beberapa mengakui dipastikan pemasukan (gaji/pendapatan) mereka sudah jauh lebih menjanjikan dan dalam tahapan karir yang nyaman. “Ini pengabdian (sebagai hakim),” kata salah seorang diantara mereka yang enggan disebutkan namanya.

 

Pilihan penuh risiko

Salah satu narasumber pembekalan ialah Kepala Badan Pengawasan Mahkamah Agung (MA) pertama yang telah purnabakti, Ansyahrul. Sosok alumni FH UI angkatan 1964 ini adalah salah satu mantan hakim karir dengan integritas teruji hingga akhir jabatannya di MA.

 

Kepada para calon hakim alumni FH UI, dia mengisahkan pengalamannya ketika dihadapkan pada pilihan penuh risiko yang diambilnya puluhan tahun silam saat memutuskan menjadi hakim. “Gaji saat itu hanya 7.000 rupiah, tiket pesawat sekali jalan ke lokasi penempatan pertama saya di Irian Jaya 180.000,” kata dia menceritakan.

 

Ansyahrul diterima menjadi calon hakim pada tahun 1971 dengan masa pengabdian 42 tahun lamanya sebagai hakim. Dia menghabiskan masa tugasnya selama 32 tahun di luar Jakarta. Penugasan pertamanya sebagai hakim di kota Wamena provinsi Irian Jaya (sekarang Papua, red.) berlanjut hingga 10 tahun lamanya setelah itu dipindahkan ke Jayapura.

 

“Saya lulus tahun ‘69, yudisium baru tahun ‘70, Pak Dekan waktu itu, Profesor Sukardono juga mengingatkan kenapa lulusan UI kok kurang yang jadi hakim,” kenangnya di hadapan puluhan alumni FH UI yang tengah menanti tahapan diklat calon hakim Februari mendatang.

 

Ansyahrul mengingat seleksi calon hakim pada tahun ia diangkat adalah seleksi pertama dengan sistem terbuka. Sebelum tahun 1971, calon hakim direkrut dengan cara tertutup dan tidak tertata dengan baik. “Penerimaan calon hakim itu belum tertata seperti sekarang,” kata dia.

 

Sosok mantan hakim bersahaja ini menegaskan ada dua tanggung jawab berat yang harus diemban yakni jabatan hakim itu sendiri dan menjaga nama baik almamater FH UI. “Anda akan masuk ke dalam suatu institusi peradilan, khususnya aktor tunggalnya namanya hakim, yang masih coreng moreng di hadapan publik, semua berharap Anda sebagai pembaharu,” lanjut Ansyahrul member nasehat.  

 

Ia berpesan menjadi hakim harus selalu sadar tengah mengemban jabatan transendental. Hukum sebagai produk peradaban tak lepas dari agama dan budaya yang membentuk peradaban manusia. “Hakim itu ndak bisa dilepaskan akarnya dari agama, apapun agama Anda, peradilan adalah milik Tuhan, hakim bersumpah atas nama Tuhan dalam memutuskan,” kata dia.

 

Menurut Ansyahrul, 24 jam sehari hakim bekerja dalam proses menegakkan keadilan atas nama Tuhan. “Berarti selalu dalam proses menegakkan perintah Allah, selalu dalam proses jihad fii sabilillah,” jelasnya.

 

Ia mewanti-wanti dalam budaya dan agama manapun selalu memuliakan peran hakim. Bahkan, dalam ajaran agama Islam disebutkan ada peluang 1 banding 3 diantara para hakim untuk bisa masuk surga jika adil. “Kuncinya komitmen, kita menjadi hakim bukan pilihan kita, tetapi dipilih Tuhan, pengadilan itu milik Allah, ada campur tangan Tuhan tidak bisa tidak,” ujarnya mengingatkan.

 

Karena itu, Ansyahrul menilai status seorang hakim bergantung keteguhannya menegakkan keadilan dan menjaga kejujurannya (hati nurani). “Engkau garam dunia, apabila garam sudah menjadi hambar, dengan apalagi dia diasinkan? Tidak ada gunanya lagi selain dibuang untuk diinjak-injak. Hakim yang kehilangan keadilan dan kejujuran sama dengan garam yang tidak asin lagi, pantasnya untuk apa?” kata Ansyahrul mengutip isi Injil Perjanjian Baru.

 

Hakim senior ini juga mengingatkan agar menjadi hakim tidak tergiur dengan godaan harta benda. “Cari nama baik, nanti rezeki mengikuti,” pesannya.

 

Hadir pula memberikan pembekalan dosen FH UI yang pernah menjabat komisioner Ombudsman, Hendra Nurtjahyo. Kepada para calon hakim ini ia mengingatkan agar tidak terjebak pada pendekatan legisme warisan tradisi hukum kolonial.

 

Sebagai pengajar ilmu-ilmu dasar hukum, Hendra yang menekuni filsafat hukum dan teori-teori keadilan ini menitipkan pesan bahwa mewujudkan keadilan harus menjadi hal pertama (utama) yang dituju para hakim kelak. Kepastian hukum harus dijaga, namun tidak menomorduakan tugas utama hakim untuk menegakkan keadilan.

 

Narasumber lain ialah sosok senior dalam Tim Asistensi Pembaharuan MA, Wiwiek Awiati menjelaskan capaian-capaian pembaharuan peradilan hingga saat ini. Selama 10 tahun sejak program pembaharuan peradilan digulirkan, masih banyak masalah peradilan yang belum terjamah. Ia berpesan agar masa magang selama dua tahun sebagai calon hakim dimanfaatkan sebaik mungkin untuk belajar serius tentang seluk beluk peradilan.

 

“Anda belum tentu lulus ya, jadi tahap pendidikan itu bukan otomatis lulus dengan isi absen, itu serius, jadi harus berprestasi (dalam diklat dan magang),” ujarnya mengingatkan.

 

Menurut Wiwiek perubahan baik sekecil apapun di pengadilan akan berdampak besar membangun kepercayaan publik pada peradilan. Ia berpesan agar setiap alumni FH UI yang kini menjadi calon hakim mampu menjadi penggerak perubahan dimanapun ditugaskan. “Be low profile, perlu dijaga betul bagaimana kita membawa diri, tapi juga mencoba membuat perubahan di tempat Anda bekerja saja itu sudah luar biasa,” lanjutnya.

 

Sesi akhir dari pembekalan ini disampaikan oleh Anisah Shofiawati, Hakim tingkat pertama yang tengah bertugas di Badan Pengawasan MA. Alumni FH UI angkatan 1994 ini menjadi sosok hakim yang beberapa kali mendapatkan perhatian media massa atas kiprahnya menjadi teladan. “Anda harus siap ‘pahit’ ya,” katanya.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.