Sabtu, 11 Agustus 2018
Fathia Izzati, Youtuber Peraih Top 8 International Commercial Arbitration
Fathia berfikir mungkin suatu saat nanti akan kembali lagi ke dunia lawyering, tapi untuk saat ini ia sedang ingin menyeriusi karirnya sebagai seorang youtuber.
Hamalatul Qurani
Fathia Izzati, Youtuber Peraih Top 8 International Commercial Arbitration
Fathia Izzati. Foto: RES

Siapa sangka? Fathia Izzati, seorang Youtuber yang dikenal menguasai berbagai aksen bahasa Inggris dari banyak negara ini termasuk mahasiswa berprestasi saat masih menjadi mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Indonesia. Pasalnya, Fathia bersama 5 rekan satu timnya berhasil menyabet posisi Top 8 pada ajang Willem C.vis International Commercial Arbitration Moot, di Vienna, 2015 lalu.

 

Tidak sampai di situ, tim yang terdiri dari 5 srikandi tersebut juga berhasil memboyong gelar honorable mention for best team orals (Frederic Eisenmann Award) dan honorable mention (Domke Martin Award) yang diraih oleh rekan satu timnya, Zarina Martha.

 

Pada episode pertama Hukumonline Love of Law (sebuah program baru di Youtube channel dan facebook hukumonline.com), Fathia Izzati berbagi pengalaman berharganya tersebut kepada hukumonline. Bagi Fathia, kepercayaan diri, kerjasama tim yang kompak dan saling membantu dalam riset merupakan kunci dari keberhasilan timnya dalam meraih posisi tersebut.

 

Tak hanya itu, Fathia menilai posisi itu diraihnya karena kerja keras dalam berlatih dengan tim hingga lima sampai enam bulan berproses, bahkan tak jarang mereka berlatih hingga larut malam pukul 2 sampai 3 pagi. “latihan selama enam bulan, dapet problemnya, latihan bikin legal memo, latihan readingnya,”jabar Fathia.

 

Sebelum sampai ke Vienna, kata Fathia, sempat juga sparing dengan universitas lain seperti universitas di Budapest, Paris, Hungaria, sparing di international chamber of commerce (ICC), Humberg. Dan semua perjalanan itu dilakukan menggunakan dana dari sponsor, ungkap Fathia.

 

Saat ditanya awal mula bisa berkecimpung di dunia moot court saat kuliah, Fathia mengaku memang sangat menyukai moot court sejak awal. Mulanya, Fathia bahkan pernah mencoba ikut Internatiational Humanitarian Law (IHL) setelah akhirnya mengurungkan diri untuk mengikuti Philip C. Jessup International Law Moot Court Competition.

 

Jessup itu kalo di UI udah kayak susah banget masuk ke situ, yaudah aku IHL aja. Waktu itu juga mau ikut vis cukup susah juga, karena mereka ada internal selection-nya lagi, tapi tiba-tiba aku keterima,” kenang Fathia.

 

Intinya, kata Fathia, untuk bisa tampil maksimal saat event mooting harus betul-betul percaya diri, just be confidence. Sekalipun kita sudah mengetahui semua dasar hukum, kata Fathia, kita tetap harus confidence sekalipun tidak tahu judge-nya akan bertanya tentang hal apa. Ia percaya, selama bisa confidence, pintar mengait-ngaitkan jawaban, dan jago bicara, maka hasilnya akan bagus.

 

Karir Setelah Lulus Kuliah

Dengan kemampuan bahasa Inggris yang advance, prestasi yang cemerlang, wajar saja kiranya Fathia Izzati berhasil menyandang posisi sebagai trainee associate di firma hukum impiannya sejak masa kuliah, yakni Assegaf Hamzah & Partners. Dulu, kata Fathia, saat ia sibuk-sibuknya latihan mooting, timnyadilatih oleh lawyer-lawyer dari AHP. Sayangnya, setelah melewati masa trainee associate selama 3 bulan, Fathia memilih untuk berkarir sebagai youtuber.

 

I really love lawfirm sebetulnya, tapi saat itu aku dapat banyak job, gak hanya youtube, tapi juga talkshow, jadi host juga, baru kemaren juga wawancara ibu Sri Mulyani, mau wawancara Erick Thohir. And i think about youtube, emang cuma 1 platform aku bisa ke mana-mana,” ujar Fathia.

 

Fathia mengaku saat masa-masa di AHP job-nya betul-betul padat. Di samping itu, ia juga harus mengurus band miliknya (reality club) hingga membuat konten youtube.Saat menjadi lawyer dia hanya bisa lakukan semua hal itu di hari Sabtu dan Minggu. Hebatnya, di tengah kepadatan rutinitas sehari-harinya, Fathia tetap berhasil menghasilkan konten youtube berbobot seputar bagaimana rasanya bekerja di lawfirm (what it’s like working in the lawfirm).

 

Fathia berfikir mungkin suatu saat nanti akan kembali lagi ke dunia lawyering, tapi untuk saat ini ia sedang ingin menyeriusi karirnya sebagai seorang youtuber. Sebagai bocoran, Fathia mengaku juga berencana akan mengambil S2.

 

 

Pentingnya Hukum Bagi Seorang Youtuber

Fathia beranggapan bahwa untuk menunjang profesinya sebagai seorang youtuber, knowledge yang selama ini ia dapatkan di fakultas hukum betul-betul sangat berguna. Fathia mencontohkan saat dirinya disodorkan kontrak atau Memorandum of Understanding (MoU), dia juga ikut membaca klausul-klausul yang tercantum dalam kontrak tersebut.

 

“Jadi lebih PD aja, karena kita punya knowledge tentang itu. Apalagi di kuliah dulu soal hak dan kewajiban itu diajarin banget,” aku Fathia.

 

Namun kecintaan Fathia terhadap bidang hukum tidak ia peroleh dengan serta merta, bahkan Fathia mengaku hukum bukanlah jurusan pilihan pertamanya saat memilih kuliah. Awalnya, ia sangat tertarik dengan jurusan Hubungan Internasional layaknya sang ayah yang saat ini berprofesi sebagai seorang diplomat. Hanya saja, kenang Fathia, ia tidak berhasil tembus untuk jurusan HI kala itu.

 

Setelah menjalani hari sebagai mahasiswa FH, sambung Fathia, ia bahkan sempat gagal di salah satu mata kuliah (hukum adat). Saat itu Fathia mengaku kesusahan dalam mempelajari materi perkuliahan terlebih dalam pembuatan makalah. Sampai akhirnya, ada perkataan seseorang yang terus terngiang-ngiang olehnya, bahwa belajar hukum bukan hanya soal menghapal, lebih daripada itu yakni harus dimengerti.

 

“Baru setelah semester 3 aku baru ngerasain, wah i like this,” ujar Fathia.

 

Hebatnya, Fathia memilih Program Kekhususan (PK) Hukum Perdata Internasional yang dikenal di kalangan mahasiswa sebagai PK yang pelajarannya cukup sulit. Saat itu, rata-rata mahasiswa lebih memilih PK hukum bisnis. Untuk PK Perdata Internasional karena image-nya yang tidak mudah, sehingga saat itu hanya delapan orang yang saat itu memutuskan memilih PK Perdata Internasional.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.