Rabu, 31 Juli 2019

ILUNI FHUI Bagikan Tips Alumni Mendongkrak Gaji

Ada lima hal yang bisa mendongkrak perolehan gaji jauh lebih tinggi di luar perkiraan.
Normand Edwin Elnizar
Ahmad Fikri Assegaf (tengah berjas hitam) bersama pengurus ILUNI FHUI dan para peserta Mentoring Alumni, Selasa (30/7). Foto: NEE

Berapa gaji yang layak diperoleh lulusan baru dari Universitas Indonesia? Pertanyaan itu menjadi perbincangan akibat sebuah keluhan di media sosial belum lama ini soal tawaran gaji. Alih-alih membahas seputar tuntutan gaji yang layak diajukan, sesi ‘Mentoring Alumni’ Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (ILUNI FHUI) justru mengungkap lima tips sukses berkarier yang kelak justru bisa mendongkrak perolehan gaji.

 

Mentoring alumni ILUNI FHUI, Selasa (30/7), diisi oleh salah satu corporate lawyer Indonesia, Ahmad Fikri Assegaf. Pendiri Assegaf Hamzah & Partners, firma hukum terbesar se-Indonesia dalam Corporate Law Firm Ranking 2019 versi Hukumonline ini didapuk sebagai sosok mentor untuk berbagai pengalamannya merintis karier. (Baca: Ini Daftar Corporate Law Firm Terbesar dan Menengah Indonesia 2019)

 

Di hadapan para alumni muda yang rata-rata baru saja lulus dari FHUI, Fikri mengungkap kisahnya yang tak pernah terobsesi mengejar target keuntungan apalagi tumpukan uang. Di balik sukses kariernya sebagai corporate lawyer andal, bisa dikatakan ia memulainya justru secara mendadak. “Awalnya saya ingin menjadi dosen, dulu asisten Prof.Erman (Erman Rajagukguk -Guru Besar Hukum Ekonomi FHUI- red),” katanya. (Baca: Nyanyi Sunyi Kemerdekaan Profesor Erman Rajagukguk)

 

Bahkan saat menjadi pelajar, awalnya ia ingin mengambil kuliah ekonomi atau hubungan internasional. “Dulu ada tayangan televisi favorit saya namanya ‘dunia dalam berita’, isinya para diplomat memecahkan masalah dunia, itu membuat ingin jadi diplomat,” Fikri mengenang.

 

Malam hari saat mengisi pilihan jurusan untuk seleksi masuk kampus, Fikri mengaku dirinya masih berdiskusi dengan ayahnya untuk memilih apa. Tidak pernah terbayang bahwa kelak dirinya mendirikan firma hukum serta grup bisnis reg-tech Hukumonline yang telah diakui banyak pihak atas kontribusi positif bagi peradaban hukum Indonesia. Berikut 5 tips yang dibagikan Fikri kepada para alumni muda FHUI.

 

1. Kenali minat

“Akhirnya saya memilih fakultas hukum karena dekat dengan minat saya pada ekonomi,” ujarnya. Sejak awal dirinya tidak merencanakan berkarier sebagai konsultan hukum bisnis. Hanya saja Fikri mengaitkan pilihannya dengan minatnya pada urusan ekonomi. Itu pun dengan cita-cita awal menjadi diplomat.

 

Tanpa diduga, Fikri lulus di pilihan fakultas hukum. Ia bisa menikmati belajar hukum dan mengambil peminatan hukum tentang ekonomi. Takdir membawanya juga menjadi aktivis mahasiswa selama di kampus. Fikri tercatat pernah menjabat Ketua Senat Mahasiswa FHUI saat kuliah.

 

Hal tersebut justru membawa Fikri pada minat baru mengabdi sebagai dosen di almamater FHUI. Ia mengaku telah menyiapkan diri untuk menjalani segala kesulitan hidup sebagai dosen. “Satu setengah tahun saya menjadi asisten Bang Erman, nggak diangkat juga sebagai dosen pegawai negeri, akhirnya dia suruh untuk pindah kerja ke kantor hukum milik temannya, Mas Arief (Arief T. Surowidjojo-red),” kata Fikri.

 

Kala itu Arief T. Surowidjojo telah berhasil membangun firma hukum Lubis Ganie Surowidjojo sambil meluangkan waktu mengajar dan terlibat penelitian di FHUI. Erman dan Arief adalah sahabat yang pernah melanjutkan studi master bersama di Amerika Serikat. Kali ini minat sebagai dosen hukum ekonomi yang terhambat membawa Fikri pada minat baru sebagai lawyer.

 

2. Pilih Mentor yang tepat

“Kalau ada yang tanya kenapa saya nggak bertahan saja konsisten untuk jadi dosen, saya bilang karena saya ingin belajar dari sosok Mas Arief,” kata Fikri. Secara khusus ia menyebut nama Erman dan Arief sebagai mentor sekaligus bos yang membuatnya belajar banyak hal baik di dunia hukum.

 

Kesungguhannya berguru pada Erman mengantarkan Fikri mengenal sosok Arief sebagai lawyer necis yang cerdas dan berintegritas. Baginya, Arief adalah lawyer yang punya kepedulian sosial dan menyenangkan sebagai kawan diskusi. Kekagumannya membuat Fikri tertarik ‘berguru’ pada Arief lebih banyak.

 

“Jadi ketika Bang Erman bilang ‘udah kau ikut Arief saja jadi lawyer’, saya bilang ‘OK Bang’, saya nggak lihat itu pilihan jelek, saya tahu akan bekerja dengan orang yang saya kagumi,” Fikri menuturkan.

 

Fikri menggambarkan bagaimana dirinya setia untuk belajar pada sosok-sosok berkualitas. Kesuksesannya saat ini diakui Fikri tidak lepas dari hasil bimbingan kedua mentornya itu.Minatnya telah menuntun pada mentor-mentor kehidupan.

 

Mengikuti mentor barunya, Fikri mengaku belajar banyak hal soal integritas profesi lawyer dari Arief T.Surowidjojo. “Pilih guru yang baik, yang bisa membuat Anda memperteguh kepercayaan dan keyakinan baik,” ujarnya. (Baca: Aliansi LGS dengan KPMG, Law Firm Indonesia Makin Diakui The Big Four)

 

3. Bukan soal gaji, tapi prestasi

“Saya nggak pernah bekerja dengan target hasil tertentu, mau jadi partner dalam sekian tahun misalnya. Saat jadi lawyer, saya hanya ingin jadi lawyer yang bagus,” Fikri menjelaskan. Baginya, berbagai keuntungan dalam karir akan mengikuti prestasi yang baik.

 

“Semuanya hanya bungkus dari kualitas diri Anda, kita lihat apa yang ingin kita lakukan sebaik mungkin,” ujarnya. Ia mengaku bahwa keberhasilannya membangun karier serta bisnisnya dengan cara mengejar prestasi terbaik, bukan hitungan keuntungan materi.

 

Salah satu ukuran prestasi tersebut adalah mampu memberikan solusi yang dibutuhkan banyak orang, termasuk klien. “Saat kami mendirikan Hukumonline misalnya, awalnya ingin memudahkan urusan orang dalam mencari peraturan dan informasi hukum,” kata Fikri.

 

4. Jaga integritas   

Fikri menuturkan berbagai tantangan yang dihadapinya untuk menjaga tidak melanggar hukum dan moral etik dalam bekerja. Salah satunya saat ia ditawari pekerjaan oleh calon klien korporasi di awal AHP berdiri. Masalahnya, calon klien ini menawarkan syarat untuk menyogok.

 

“Baru setahun AHP, ada in house counsel kasih tawaran model begitu, kami juga butuh banget pekerjaan ini, tapi kami tolak karena berpegang prinsip,” katanya. Tak diduga, justru tawaran pekerjaan itu diserahkan kepada AHP. Rupanya tawaran ‘kotor’ di awal hanya untuk memastikan integritas Fikri dan rekan-rekannya. (Baca: Jadi Lawyer Itu Berat? Simak Dulu Curhat Mereka)

 

“Kata mereka, ‘wah, bagus, gue ngetes lu aja’, ya alhamdulillah, ternyata perusahaan mereka memang tidak mau cara begitu,” kata Fikri lagi. Ia mengaku tidak mudah untuk terus menjaga integritas. Namun, integritas akan menjadi investasi berharga yang berbuah kesuksesan jangka panjang.

 

5. Bekerja di lingkungan suportif

Fikri menjelaskan bahwa semua yang dilakukannya tidak akan berhasil jika tidak mendapatkan dukungan dari lingkungan bekerja. Ia mengaku sejak awal berkarier lawyer telah mendapatkan keteladanan soal profesionalitas dan integritas. Oleh karena itu, penting untuk memilih tempat bekerja sejak awal berkarier.

 

“Jangan pilih bos yang kalian pikir membawa pada keburukan, Anda tidak mungkin menikmati bekerja di tempat yang bertentangan dengan nurani,” Fikri menjelaskan. Apalagi ketika baru memulai karier. Ada karakter dan kepribadian yang akan terbentuk untuk jangka panjang dari lingkungan bekerja.

 

Namun Fikri memberikan pengecualian. Satu-satunya alasan berkompromi dengan lingkungan kerja yang tidak suportif adalah rencana untuk melakukan perubahan kondisi. “Kalau begitu lain ceritanya, tapi Aanda harus punya kekuatan ekstra,” ujarnya.

 

Fikri juga menyebutkan bagaimana lingkungan bekerja akan mempengaruhi cara menjalani kehidupan. Sangat penting untuk mempertimbangkan lingkungan bekerja dengan baik sebelum akhirnya memutuskan menjadi bagiannya.

 

Pada akhir mentoring, Fikri menyimpulkan bahwa sukses berkarier bukanlah soal berorientasi gaji tinggi. Justru dengan memenuhi lima hal yang ia sebutkan bisa mendongkrak perolehan gaji pada standar yang jauh lebih tinggi di luar perkiraan. Tentu semuanya tidak berjalan instan, ada usaha dan kesungguhan yang harus dibuktikan dengan perbuatan.

 

Ketua ILUNI FHUI, Ashoya Ratam mengungkapkan bahwa program mentoring alumni sebagai upaya untuk membantu para alumni FHUI terus berkembang. “Hari ini kami memilih Bang Fikri sesuai pilihan survei dari para alumni muda, untuk belajar dari kesuksesannya,” kata Ashoya kepada Hukumonline.

 

Mentoring alumni sebagai upaya menjembatani para alumni senior yang telah berpengalaman dalam karier bisa berbagi manfaat pada alumni junior. “Ini sarana agar saling terhubung, kali ini memang lebih banyak alumni yang fresh graduate,” ujarnya.

 

Ashoya mengajak para alumni untuk bersiap-siap mengikuti berbagai program ILUNI FHUI selanjutnya. “Kami tunggu dengan senang hati partisipasinya,” katanya.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua