Kamis, 12 September 2019

Dianggap 'Main Dua Kaki', Kantor Hukum Ini Digugat Puluhan Juta Dollar

Penggugat meminta majelis hakim menghukum para Tergugat dengan kerugian materiil Rp456 juta ditambah AS$62,5 juta dan imateriil Rp500 miliar.
Aji Prasetyo
Ilustrasi: HGW

Konflik internal antara PT Sushi-Tei Indonesia, usaha restoran Jepang yang populer di Indonesia, dengan mantan petingginya sendiri yang berujung gugatan perdata berimbas pada pihak lain. Kantor hukum Arfidea Kadri Sahetapy-Engel Tisnadisastra (AKSET Law) beserta sejumlah advokat didalamnya juga ikut terseret ke pengadilan dalam gugatan yang berbeda.

 

Dalam dokumen gugatan yang diperoleh Hukumonline, Kusnadi Rahardja, mantan Direktur Utama PT Sushie Tei Indonesia selaku Penggugat diwakili Kantor Hukum Hotman Paris & Partner dengan advokat Yefikha dan Oktavianus Wijaya Sakti menganggap AKSET beserta advokatnya mengkhianati kliennya dengan cara melawan hukum.

 

“Gugatan ini sehubungan dengan tindakan Tergugat I s.d. Tergugat XIII, para advokat yang tergabung dalam kantor hukum AKSET sebagai Tergugat XIV yang mengkhianati Penggugat selaku klien (dua kaki) dengan cara Perbuatan Melawan Hukum (PMH),” demikian bunyi gugatan dalam dokumen yang diperoleh Hukumonline. Baca Juga: Konflik Panas “Dapur” Sushi Tei

 

Para Tergugat dimaksud adalah Tergugat I Arfidea D. Saraswati; Tergugat II Mohamad Kadri; Tergugat III Johannes C. Sahetapy-Engel; Tergugat IV Abadi Abi Tisnadisastra; Tergugat V Inka Kirana; Tergugat VI Alfa Dewi Setiawati; Tergugat VII Merari Sabati; Tergugat VIII Raden Suharsanto Raharjo; Tergugat IX Agata Jacqueline Paramesvari; Tergugat X Audreyna Andriani; Tergugat XI Muchael Darari; Tergugat XII Nurana Sekar Lestari; Tergugat XIII Raja Sawery G. D. Notonegoro; Tergugat XIV Kantor Hukum AKSET; Tergugat XV Sonny Kurniawan; dan Tergugat XVI PT Sushi-Tei Indonesia.

 

Tergugat I-XIII diketahui merupakan advokat kantor hukum AKSET. Sementara Tergugat XV adalah Direktur PT Sushi-Tei Indonesia. Dalam gugatan disebut Kusnadi merupakan klien dari Tergugat I-XIV baik dalam kapasitas pribadi maupun Direktur Utama Sushi Tei atas proyek yang memerlukan jasa hukum berbeda.

 

Salah satunya jasa hukum dalam rangka pembuatan Convertible Loan Agreement untuk kepentingan Kusnadi yang mana pada waktu itu direncanakan peminjaman yang dapat ditukar saham senilai AS$50 juta. Penggugat juga membeberkan sejumlah bukti yang menguatkan jika dirinya merupakan klien pribadi dari para Tergugat. Salah satunya bukti surat tertanggal 15 Agustus 2017 yang salah satu isinya menyatakan ucapan terima kasih atas permintaan Kusnadi dan Sonny sebagai pemegang saham PT Inti Sakura Pangan untuk menggunakan jasa hukum AKSET.

 

Bukti lainnya adalah pemberian honor yang diberikan Kusnadi kepada AKSET dalam jumlah tertentu. Kemudian terjadi beberapa pertemuan serta pemberian saran dari para Tergugat kecuali saran ke Tergugat XV dan XVI sebagaimana korespondensi surat elektronik dari 23 Oktober 2017–23 Oktober 2018 antara Kantor Hukum AKSET dengan Kusnadi serta Sonny.

 

Bukti selanjutnya adanya surat yang berisi penunjukan Tergugat I-XIV untuk menyediakan jasa/bantuan hukum guna mewakili kepentingan Penggugat secara pribadi selaku pemilik 24 persen saham maupun Presiden Direktur PT Sushi-Tei Indonesia. Dalam surat tertanggal 17 Januari 2018 itu, para Tergugat juga melampirkan perkiraan jumlah honor yang harus dibayarkan. Namun yang cukup menarik, dalam gugatan ini juga disebut pembayaran honor bukan dari Kusnadi secara pribadi, tetapi oleh PT Sushi-Tei Indonesia yang diketahui juga digugat Kusnadi dalam gugatan berbeda.

 

“Berdasarkan kutipan tersebut diatas, jelas terlihat dalam bukti penunjukan konsultan hukum yang kedua, meskipun honor advokat Kantor Hukum AKSET dibayar oleh Tergugat XVI (PT Sushi-Tei Indonesia), salah satu pemilik dari Tergugat XVI adalah Penggugat secara pribadi (24 persen saham) dan bahkan Penggugat merupakan Presiden Direktur dari Tergugat XVI,” sebut gugatan tersebut.

 

Kusnadi diketahui telah diberhentikan sementara oleh Dewan Komisaris selaku Presiden Direktur sekaligus pemegang saham PT Sushi-Tei Indonesia. Ia menuding AKSET beserta sejumlah advokatnya yang jadi Tergugat dalam perkara ini mempunyai peran besar atas keputusan tersebut. Bahkan dianggap sebagai aktor intelektual atas keputusan yang diambil Dewan Komisaris.

 

“Juga bertindak sebagai sebagai kuasa hukum dari Dewan Komisaris PT Sushi-Tei Indonesia (Tergugat XVI) yang mempunyai kepentingan yang berseberangan dengan kepentingan hukum Penggugat yakni melakukan pemecatan sementara terhadap Penggugat selaku Presiden Direktur,” tulis dokumen tersebut.

 

Dari berbagai Perbuatan Melawan Hukum yang menurut Kusnadi dilakukan para Tergugat, ia pun menderita sejumlah kerugian. Pertama, membayar honor konsultan hukum sebesar Rp456,971 juta. Kedua, kegagalan Penggugat mendapat untung sebesar AS$12,5 juta karena gagalnya Convertible Loan sebesar AS$50 juta. Alasan kedua kerugian ini juga dijabarkan dalam gugatan.

 

Tergugat I-XIV ditunjuk Penggugat sebagai advokat untuk mewakili kepentingannya untuk mendapat Convertible Loan sebesar AS$50 juta. Jika berhasil Penggugat akan mendapat 25 persen dari proyek itu, tetapi karena gagal ia mengalami kerugian sebesar 25 persen dari AS$50 juta atau sekitar AS$12,5 juta. Oleh karenanya, Penggugat meminta majelis hakim menghukum Tergugat I-XIV secara tanggung renteng membayar kerugian itu ditambah bunga 6 persen setahun.

 

Ketiga, terkait turunnya harga saham, diketahui Kusnadi merupakan pemilik 24 persen saham PT Sushi-Tei Indonesia dengan taksiran harga sebesar AS$75 juta. Tetapi setelah ada pemecatan ini, sahamnya turun 35 persen atau kerugian sebesar AS$50 juta, dan kerugian inilah yang diminta Kusnadi untuk diganti Tergugat I-XIV secara tanggung renteng. Kemudian ada juga kerugian imateril terkait rusaknya citra Kusnadi selaku pengusaha sebesar Rp500 miliar.

 

Jadi total permintaan Kusnadi selaku Penggugat yang diwakili kuasa hukumnya meminta majelis hakim PN Jakarta Pusat menghukum Tergugat I-XIV membayar secara tanggung renteng sebesar Rp459,917 juta; AS$12,5 juta; AS$50 juta; dan imateril sebesar Rp500 miliar.  

 

Kuasa hukum AKSET Ricardo Simanjuntak, saat dihubungi Hukumonline menyatakan kliennya menjalankan tugas memberi jasa hukum kepada Sushi-Tei selaku korporasi, bukan Kusnadi Rahardja secara pribadi. “Klien kami membantu Sushi-Tei agar bisa menjalankan bisnisnya sesuai peraturan perundang-undangan di Indonesia,” jelas Ricardo.

 

Tudingan Kusnadi dalam surat gugatan yang menyebut AKSET merupakan aktor intelektual terkait keputusan direksi yang memecatnya untuk sementara waktu juga dibantah Ricardo. “Klien kami tidak mencampuri urusan internal, AKSET hanya memberikan jasa hukum mengenai bisnis Sushi-Tei,” katanya.

Belum ada tanggapan
Captcha belum diisi / expired / tidak valid.

NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua