Selasa, 15 October 2019

Label Pemanis Buatan Tak Jelas Berisiko Bahayakan Konsumen

 

(Baca: Kesiapan Pemerintah Terapkan Kewajiban Sertifikasi Halal Dipertanyakan)

 

Berbagai temuan pelanggaran tersebut merupakan hasil nnalisa label yang dilakukan YLKI terhadap 25 merek produk pangan yang pada labelnya terdapat penandaan mengandung pemanis buatan.

 

Sedangkan responden survei sebanyak 90 orang yang terdiri dari 30 orang ibu hamil, 30 orang ibu menyusui, dan 30 orang ibu yang memiliki anak balita. Cakupan wilayah survei berada di Jakarta Selatan yang dilakukan pada Maret – April 2019. Adapun hasil dari analisa yang dilakukan YLKI adalah sebagai berikut:

 

Hasil survei tersebut menyatakan sebanyak 47% konsumen sudah mengenali lebih dari 10 produk pangan yang mengandung pemanis buatan di antara 25 produk yang dijadikan sampel. 

 

Ada 3 (tiga) produk minuman serbuk dan 1 (satu) produk bumbu masakan yang paling populer di kalangan responden. Mayoritas balita (43,3%) pernah mengonsumsi pangan berpemanis buatan jenis minuman serbuk, sedangkan sebagian besar ibu hamil (70%) dan ibu menyusui (80%) responden mengaju pernah mengonsumsi bumbu masakan yang mengandung pemanis buatan. 

 

Mayoritas responden (90%) pernah mendengar istilah pemanis buatan, tetapi mayoritas dari mereka (45%) mempersepsikan sebagai pengganti gula atau biang gula.Sebanyak 96% responden survei tidak mengetahui nama-nama jenis pemanis buatan. Teman atau keluarga dan sosial media menjadi sumber utama informasi responden terkait pemanis buatan;Hanya 2 dari 13 pelaku usaha yang mewakili seluruh sampel produk yang memberikan tanggapan melalui contact center konsumen. Masih banyak responden (51%) mengaku jarang membaca label pangan yang dibelinya. 

 

Jikapun pernah, maka perhatian belum difokuskan pada informasi komposisi dan peringatan kesehatan; Kendati konsumen sampel survei pernah membaca penandaan terhadap adanya pemanis buatan pada label pangan, mereka menyimpulkan bahwa penandaan tersebut tidak efektif, karena dinilai konsumen tulisan terlalu kecil, tulisan tercetak samar-samar, tulisan tersembunyi, tidak ditandai secara khusus, tidak terbaca, tulisan tidak menarik perhatian, kalah bombastis dengan klaim produk, penempatan info dianggap tidak penting, tulisan terselip di lipatan kemasan dan terkesan tidak niat membuat penandaan.

 

Dengan demikian, YLKI merekomendasaikan ke pemerintah melalui BPOM dan Kementrian Kesehatan untuk menyampaikan informasi kepada konsumen dalam kategori rentan agar dapat memahami maksud dari peringatan kesehatan yang tercantum pada label, dan selanjutnya melakukan pengawasan.

Halaman

Seluruh isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Redaksi Hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan komentar, dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.

[ X ]

Notifikasi Adblocker

Kami memasang iklan pada konten yang Anda ingin jelajahi.
Iklan membantu kami untuk dapat memberikan konten hukum secara gratis.

Bantu kami untuk tetap menjadikan hukum untuk semua dengan cara menonaktifkan Adblock pada browser Anda. Pahami lebih lanjut mengenai ketentuannya disini.

Selain itu, Anda juga dapat berlangganan layanan premium dari hukumonline.com. klik disini

Terima kasih atas dukungan yang Anda berikan.

[ X ]

Ketentuan Adblocker


Bagaimana menonaktifkan Adblocker pada laman hukumonline.com?

Adblock / Adblock Plus
  • Klik logo Adblock/Adblock Plus, yang berada disebelah kanan address bar.
  • Pada Adblock, klik "Don't run on pages on this domain".
  • Pada Adblock Plus klik "Enabled on this site" untuk menonaktifkan Adblocking pada laman hukumonline.com. Apabila Anda menggunakan Firefox, klik "disable on hukumonline.com".
Firefox Tracking Protection

Apabila Anda menggunakan Private Browsing dalam Firefox, "Tracking Protection" akan muncul pemberitahuan Adblock. Anda dapat menonaktifkan dengan klik “shield icon” pada address bar Anda.

Ghostery
  • Klik pada icon Ghostery.
  • Apabila Anda menggunakan versi sebelum 6.0 klik "whitelist site".
  • Dalam versi 6.0 klik "trust site" atau tambahkan hukumonline.com pada Trusted Site list Anda.
  • Dalam versi sebelum 6.0 Anda akan melihat pesan "Site is whitelisted". Klik "reload the page to see your changes".
uBlock
  • Klik ikon uBlock.
  • Lalu klik tombol besar untuk melakukan whitelist pada laman yang sedang Anda jelajahi, dan ketika Anda membuka laman ini kembali secara otomatis akan terekam perintah yang Anda lakukan.
  • Lalu lakukan reload pada laman yang Anda jelajahi.

Terima kasih atas dukungan Anda untuk membantu kami menjadikan hukum untuk semua