Senin, 18 Juni 2012
Penerapan PHK Karena Kesalahan Berat Pasca Putusan MK Oleh: Willy Farianto *)
Sudah saatnya untuk menyamakan persepsi bahwa melakukan proses pidana terhadap pekerja yang melakukan kesalahan berat harus ditafsirkan sebagai hak pengusaha.
Dibaca: 66895 Tanggapan: 7

Pada awal diundangkanya UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU Ketenagakerjaan), salah satu alasan Pemutusan Hubungan Kerja adalah, karena “kesalahan berat”, yang diatur dalam ketentuan Pasal 158.

Alasan kesalahan berat pada pokoknya mengatur tentang perbuatan pidana yang telah diatur dalam KUHP, sehingga untuk menyatakan pekerja telah melakukan kesalahan berat harus atas dasar pekerja tertangkap tangan, ada pengakuan pekerja yang bersangkutan atau bukti lain berupa laporan kejadian yang dibuat oleh pihak berwenang, di perusahaan yang bersangkutan, dengan didukung oleh dua orang saksi.

Apabila hal tersebut terpenuhi maka pengusaha diberi kewenangan oleh undang-undang untuk melakukan pemutusan hubungan kerja secara sepihak tanpa wajib membayar uang penggantian hak, uang pesangon dan atau uang penghargaan masa kerja.

UU Ketenagakerjaan sendiri tidak memberikan pengertian “kesalahan berat”, sehingga dalam praktik kualifikasi kesalahan berat yang diatur dalam Pasal 158 ayat (1) menjadi terbatas. Atau dengan perkataan lain, tidak boleh ada kualifikasi perbuatan lain yang digolongkan menjadi kesalahan berat.

Padahal umumnya setiap sektor industri atau jasa memiliki kualifikasi kesalahan berat di luar ketentuan Pasal 158 ayat (1). Contohnya kesalahan berat bagi pekerja yang merokok di lokasi kerja berbahaya yang mudah terbakar seperti di perusahaan minyak dan gas. Atau penjaga perlintasan kereta yang membiarkan kereta lewat tanpa menutup pintu perlintasan.

Contoh kasus seperti di atas bagi perusahaan lain mungkin tidak merupakan kesalahan berat, namun beda ceritanya bagi perusahaan terkait. Dalam praktik, sebagian praktisi menganggap bahwa kesalahan berat harus selalu tindak pidana sedangkan yang lain berpandangan kesalahan berat tidak selalu harus tindak pidana.

Putusan MK dan Dampaknya
Ketentuan Pasal 158 UU Ketenagakerjaan ini dinilai oleh pihak pekerja dan serikat pekerja telah bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) UUD 1945, serta melanggar azas praduga tidak bersalah/ preassumption of innocence. Berdasarkan alas hukum tersebut maka dilakukan permohonan hak uji materi UU Ketenagakerjaan.

Atas permohonan pekerja dan serikat pekerja, Mahkamah Konsitusi (MK) menjatuhkan putusan No.012/PUU-I/2003, tertanggal 28 Oktober 2004, yang amar putusannya pada pokoknya menyatakan ketentuan Pasal 158 UU Ketenagakerjaan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat.    

Pasca putusan MK, muncul banyak penafsiran dalam hal terjadi perselisihan hubungan industrial mengenai pemutusan hubungan kerja karena pekerja melakukan perbuatan yang dikualifikasikan dalam ketentuan Pasal 158 UU Ketenagakerjaan.

Menyikapi hal tersebut Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada 7 Januari 2005 menerbitkan Surat Edaran Nomor: SE.13/MEN/SJ-HK/I/2005. Isi pokok dari surat edaran menteri itu adalah penyelesaian perkara pemutusan hubungan kerja karena pekerja melakukan kesalahan berat harus memperhatikan dua hal. Yakni, PHK dapat dilakukan setelah ada putusan pidana yang mempunyai kekuatan hukum tetap atau apabila pekerja ditahan dan tidak dapat melaksanakan pekerjaan maka berlaku ketentuan pasal 160 UU Ketenagakerjaan.

Selain itu, surat edaran menteri juga menyatakan, dalam hal terdapat “alasan mendesak” yang berakibat hubungan kerja tidak dapat dilanjutkan, maka pengusaha dapat menempuh upaya penyelesaian melalui lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial.

Belum tuntas perbedaan penafsiran mengenai “kesalahan berat” Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi memunculkan istilah “alasan mendesak” tanpa memberikan pengertian yang jelas.

Berdasarkan penelusuran pustaka, “alasan mendesak” ternyata ditemukan pada buku III Kitab Undang-undang Hukum Perdata Pasal 1603 o, yang isinya sebagian besar sama dengan ketentuan Pasal 158 ayat (1) UU Ketenagakerjaan.

Berbeda Penafsiran
Perbedaan penafsiran dan pandangan mengenai pemutusan hubungan kerja karena kesalahan berat pasca putusan MK dan SE Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi oleh pengusaha, mediator dan hakim ditafsirkan secara berbeda dengan argumentasi hukum masing-masing.

Dari pengalaman dan hasil pengamatan selama delapan tahun terakhir, dapat diidentifikasi bagaimana mereka menerapkan pemutusan hubungan kerja karena kesalahan berat, sebagai berikut:
 

Pengusaha

Mediator

PHI

1.    Menerapkan Pasal 158 seperti sebelum adanya putusan MK, yakni melakukan PHK sepihak tanpa membayarkan pesangon dan penghargaan masa kerja.

2.    Hanya melaporkan tindak pidana yang dilakukan pekerja ke Polisi sedangkan proses ketenagakerjaanya di biarkan atau menunggu putusan pidana.

3.    Melaporkan pekerja terlebih dahulu ke polisi dan apabila di lakukan penahanan setelah 6 (enam) bulan tidak dapat menjalankan pekerjaan atau belum 6 (enam) bulan tetapi telah ada putusan bersalah dari pengadilan pidana maka pengusaha menerbitkan Surat Keputusan PHK sepihak sesuai Pasal 160 UU Ketenagakerjaan.

4.    Tidak melaporkan kesalahan berat pekerja ke polisi akan tetapi langsung melakukan proses PHK sesuai UU No.2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (bipartite, mediasi, PHI)

5.    Tidak melaporkan kesalahan berat pekerja ke polisi asalkan pekerja bersedia mengundurkan diri atau diakhiri hubungan kerjanya tanpa pesangon dan penghargaan masa kerja.

6.    Membuat pengakhiran hubungan kerja terlebih dahulu dengan pekerja setelah itu melakukan proses pidana dengan melaporkan kesalahan berat pekerja.

 

1.    Menolak melakukan mediasi tanpa memberikan anjuran apabila belum ada putusan pidana.

2.    Melakukan mediasi dan menerbitkan anjuran, apabila dalam proses mediasi pengusaha menyatakan bersedia memberikan kompensasi sebesar 1 x ketentuan pasal 156 ayat (2), (3) & (4) UU Ketenagakerjaan.

3.    Melakukan mediasi dan menerbitkan anjuran untuk mempekerjakan pekerja pada posisi semula atau melakukan pemutusan hubungan kerja dengan memberikan kompensasi pesangon sebesar 2 x ketentuan pasal 156 ayat (2), penghargaan masa kerja sesuai pasal 156 ayat (3) & (4) UU Ketenagakerjaan.

1.    Menyatakan gugatan tidak dapat diterima apabila gugatan pemutusan hubungan kerja karena kesalahan berat belum memiliki putusan pidana yang berkekuatan hukum tetap.

2.    Mengabulkan gugatan pemutusan hubungan kerja karena kesalahan berat apabila kesalahan berat diatur dalam perjanjian kerja atau peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama dan pengusaha dapat membuktikanya dalam persidangan.

Dalam hal ini pengadilan akan memberikan hukuman kepada pengusaha untuk membayarkan kompensasi sebesar 1 x ketentuan pasal 156 ayat (2), (3) & (4) UU Ketenagakerjaan. Namun sebagian pengadilan ada yang memutuskan tanpa memberikan hak pesangon dan penghargaan masa kerja.

3.    Mengabulkan gugatan pemutusan hubungan kerja karena kesalahan berat meskipun dianggap tidak terbukti. Pada beberapa kasus hakim justru mendasarkan alasan pemutusan hubungan kerja karena efisiensi sebagaimana diatur dalam pasal 164 ayat 3 UU Ketenagakerjaan, dan apabila pengusaha dinilai telah kehilangan kepercayaan dan hubungan kerja menjadi disharmonis maka pengusaha akan dihukum untuk membayarkan pesangon sebesar 2 x ketentuan pasal 156 ayat (2) UU Ketenagakerjaan.


Mendasarkan pada praktik penerapan pemutusan hubungan kerja di atas, diketahui bahwa pemutusan hubungan kerja karena kesalahan berat dapat diselesaikan melalui proses hukum acara penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang diatur dalam UU No. 2 Tahun 2004 tentang PPHI. Melihat kenyataan tersebut kedepan diharapkan mediator tidak lagi menolak untuk melakukan mediasi dan hakim diharapkan bersedia memeriksa dan mengadili gugatan pemutusan hubungan kerja karena kesalahan berat.

Berdasarkan fakta yang terjadi dalam penerapan pemutusan hubungan kerja karena kesalahan berat maka sudah saatnya untuk menyamakan persepsi bahwa melakukan proses pidana terhadap pekerja yang melakukan kesalahan berat harus ditafsirkan sebagai hak pengusaha, sehingga mediator dan hakim tidak lagi mewajibkan kesalahan berat harus diproses secara pidana terlebih dahulu.

*) Advokat/ konsultan hukum ketenagakerjaan pada FARIANTO & DARMANTO Law Firm

phk
 - budi
23.05.16 17:39
saya kena kasus pencurian barang kantor tapi barang tersebut sekarang kembali kekantor. kemudian dari pihak management saya diberikan dua opsi, saya mengundurkan diri atau saya diberi pesangon tapi saya diproses hukum? bagaimana tanggapan saudara?
tanggapan
 - wiwien anindita
19.12.15 14:48
jika PHI dan mediator bisa menyidangkan perselisihan atas alasan / tuduhan pengusaha terhadap karyawanx karena kesalahan berat, sudah barang tentu bertentangan dengan PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI yang bersifat final dan mengikat meskipun dg alasan UU No 2/2004 ... perlu doketahui bahwa UU No. 2/2004 adalah tata cara perselisihan bukan jenis perkara yang diajukan ... jadi dimohon kepada siapapun memiliki otak dan pemikiran yg jernih bukan kepentingan bisa mendapatkan klien untuk berpekara
PHK
 - udar
27.08.15 09:41
kalau pihak perusahan tidak memperpanjang kontrrak terhadap Outsoursing ini gimana kalau ada PHK halusss..
PHK
 - Ghurda Panca Aji
10.12.15 14:43
pendapat saya : 1. Karyawan outsourching, adalah tenaga kerja perusahaan Outsourching/PO, artinya putusnya kontrak kerjasama tidak selalu berakibat PHK kepada pekerja, dengan asumsi PO memiliki clien ditempat lain sehingga dapat melakukan mutasi area kerja. 2. Pengakhiran hubungan kerja antara perusahaan Outsourching/PO dengan tenaga kerjanya adalah kewenangan PO 3. bahaya nya ketika PO melakukan pelanggaran jangka waktu perjanjian kerja/PKWT yang seharusnya merubah status pekerjanya menjadi PKWTT, jika PO menolak ada kemungkinan tenaga kerja outsourching melakukan tuntuttan kepada pengguna jasa dan itu diperbolehkan dalam UU. (dan dalam kontrak kerjasama, PO wajib menjamin poin 1, 2 & 3 agar tidak melibatkan pengguna jasa)
PHK atas dasar putusan pidana
 - erwin sinaga
20.01.15 16:04
boleh tidak karyawan diPHK dengan alasan adanya suatu putusan pengadilan terhadap suatu tindak pidana yang dilakukan karyawan diluar jam kerja ?
PHK
 - Ghurda Panca Aji
10.12.15 14:11
mengacu UUTK Psl.60, hal tersebut diperbolehkan dengan berazas praduga tak bersalah dan dengan syarat jangka waktu serta persentase upah yang ditetapkan.
kesalahan berat
 - bakhtiar
10.09.13 05:27
saya terkena kasus perjudian di lingkungan pekerjaan ,, setelah di proses ternyata saya di PHK tp sisa kontrak saya tidak di bayar apa menurut UU emg begitu ??
dpt pesangon atau tidak
 - Silvia
05.12.12 20:03
Jika karyawan melakukan kesalahan berat (penipuan/memakai uang tagihan tanpa seijin perusahaan dengan memalsu stempel toko) dan uang tersebut pada akhirnya dkembalikan sesuai yg dgunakan apakah msih pantas mendapatkan pesangon??
kesalahan berat
 - bincar
13.07.12 22:12
jika kesalahan berat ditafsirkan sebagai hak pengusaha.. bisa-bisa saja terjadi diskriminasi.. suka-suka pengusaha jika sudah tak suka dg karyawan tak mau bayar pesangon.. bilang aja melakukan pelanggaran berat.. bisakah terjadi demikian !
pantaskan
 - bardas
31.08.12 10:17
jika anda memiliki perusahaan, dan karyawan anda tertangkap tangan melakukan pelangggaran berat, masih maukan anda menerimanya? atau secepatnya anda ingin memecatnya?
Kesalahan berat
 - Arry
04.04.13 09:34
Menurut saya, yang dimaksud pada putusan MK tsb adalah untuk PHK sepihaknya saja yg dibatalkan. Sementara utk proses pembuktiannya krn pelanggaran sebagaimana diatur pada Psl. 158 tsb tetap hrs melalui proses hukum yg berlaku (due process of law). Pengadilan-lah yg berwenang utk membuktikan seseorang itu bersalah atau tidaknya terhadap sebuah pelanggaran tindak pidana. Setelah ada putusan Pengadilan yg bersifat tetap (inkracht) barulah bisa dilakukan PHK-nya (jika dinyatakan bersalah), jika tidak maka pengusaha wajib mempekerjakan kembali.
Kesalahan Berat
 - Ghurda Panca Aji
10.12.15 14:50
pada praktiknya hal demikian terjadi, tetapi jangan lupa bahwa perusahaan & pekerja memiliki tanggung jawab untuk MEMBUKTIKAN, dan apabila salah satu pihak lemah dalam pembuktian maka jalur hukum terbuka lebar untuk penyelesaiannya.
NAMA
EMAIL
JUDUL
TANGGAPAN

Seluruh judul dan isi tanggapan adalah tanggung jawab masing-masing penulis tanggapan. Redaksi hukumonline berhak untuk menayangkan atau tidak menayangkan tanggapan dengan mempertimbangkan kepatutan serta norma-norma yang berlaku.