Di tengah perkembangan tersebut, muncul istilah FIMI (Foreign Information Manipulation and Interference) atau manipulasi dan interferensi informasi asing yang pertama kali diperkenalkan oleh European Union External Action Service pada 2021.
Konsep ini digunakan untuk menggambarkan aktivitas manipulasi informasi yang lebih terstruktur dibandingkan disinformasi biasa. Ia menjelaskan, FIMI umumnya melibatkan aktor asing dari negara maupun non-negara yang secara sengaja dan terkoordinasi memanipulasi ekosistem informasi untuk memengaruhi persepsi serta perilaku publik.
“FIMI mengarah pada sesuatu yang sangat intensional, disengaja, terkoordinasi, dan berbentuk aktivitas manipulatif untuk memengaruhi ekosistem informasi,” katanya.
Ia menjelaskan, operasi FIMI diawali dengan perencanaan, penentuan target, penyusunan strategi, produksi konten manipulatif, hingga distribusi melalui bot, troll, influencer, dan berbagai platform digital. Tujuannya bukan sekadar menyebarkan informasi salah, tetapi juga memengaruhi persepsi publik terhadap isu, negara, atau kebijakan tertentu serta menciptakan dampak sosial dan politik yang lebih luas.
Jurnalisme menurutnya menjadi salah satu pihak yang paling rentan terhadap operasi FIMI. Banjir informasi palsu dapat menenggelamkan informasi kredibel sekaligus melemahkan kepercayaan publik terhadap media dan produk jurnalistik. Karena itu, ia menekankan pentingnya memperkuat jurnalisme, termasuk melalui pendanaan yang memadai agar media tetap mampu menjalankan fungsi pengawasan dan verifikasi informasi.
“Tidak ada kata lain selain memperkuat jurnalisme. Selain fact-checking, peningkatan literasi media juga menjadi bagian penting,” ujarnya.
Menurutnya, investasi pada riset, teknologi pendukung, serta mekanisme berbagi informasi antar pemangku kepentingan juga diperlukan untuk menghadapi ancaman disinformasi dan FIMI yang terus berkembang.
Dalam kesempatan yang sama, Pemimpin Redaksi Konde.co, Luviana Ariyanti, menceritakan pengalaman medianya menjadi sasaran serangan narasi terkoordinasi pada 2025. Serangan itu muncul setelah Konde.co dan sejumlah media lain dituding menerima pendanaan asing, dengan penyebaran narasi secara masif dan berulang melalui berbagai akun media sosial.
“Waktu itu kami mencoba mengidentifikasi apakah ini bagian dari operasi FIMI, karena terlihat terencana dan menggunakan narasi yang seragam,” ujarnya.
Luviana mengatakan banyak media dan organisasi masyarakat sipil saat itu berupaya memahami pola serangan sekaligus menyusun langkah mitigasi untuk melindungi jurnalis dan ruang redaksi. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi antara media, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas pemeriksa fakta dalam menghadapi serangan informasi terorganisasi.
















