Berhasil mempertahankan tesisnya, Ali lulus dari Dundee menyandang gelar LL.M untuk Petroleum Law and Policy di tahun 2004. Namun sebelum lulus, Ia telah lebih dahulu mendapatkan tawaran bekerja di VICO (Virginia Indonesia Company LLC), sebuah perusahaan kontraktor kerja sama yang ditunjuk BP Migas untuk melakukan proses pengeboran minyak dan gas bumi di Bontang. Baru bekerja selama 3 tahun di VICO, Ali memperoleh kesempatan bekerja sebagai International Legal Advisor di sekretariat OPEC, Vienna (2006-2014).
Ali juga sempat membagikan suka-duka bekerja selama hampir 8 tahun di OPEC. Tantangan yang cukup berat baginya adalah masalah cuaca musim dingin yang begitu ekstrim, minus 20 derajat celsius. “Karena saya terbiasa di daerah tropis, itu sangat challenging dan terkadang menyusahkan juga,” kenangnya.
Selain soal cuaca, kata Ali, bekerja dengan orang dari berbagai negara dengan beragam budaya juga merupakan tantangan tersendiri baginya. Sekjen OPEC ketika itu asal Libya, sedangkan direkturnya ada yang berasal dari Kuwait. Kemudian, kepala departemennya dari Arab Saudi.
“Memang tantangannya itu perbedaan culture, misalnya dalam diskusi, mayoritas orang middle east cenderung cepat emosi, menanggapinya kita harus tetap cool down aja ga usah take it personal,” ceritanya.
Sepulangnya dari OPEC, Ali bekerja sebagai tenaga ahli di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia selama satu tahun. Pada saat yang sama, ia juga tergabung sebagai anggota Komite Eksplorasi Nasional (KEN).
Masih di 2015, Ia menjabat sebagai ketua komite etik sekaligus merupakan senior manager divisi legal hingga kini di sebuah perusahaan petroleum asal UK, Premier Oil Indonesia. Tak hanya sibuk untuk urusan internal perusahaan, Ali juga bertindak sebagai chairman komite urusan regulasi Indonesian Petroleum Association (IPA) sejak 2017.
















