“Karena pers yang kuat bukan hanya kebutuhan industri, tetapi fondasi penting bagi masyarakat demokratis,” ujarnya.
Semakin terdesak
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pers Prof Komaruddin Hidayat mengatakan Media Outlook di awal tahun yang diselenggarakan Dewan Pers diharapkan dapat menjadi reflektor kehidupan pers ke depan. Menurutnya, pers berfungsi sebagai cermin yang memantulkan apa yang terjadi di pemerintah kepada masyarakat.

Ketua Dewan Pers Prof Komaruddin Hidayat. Foto: WIL
Begitupun sebaliknya menyampaikan aspirasi masyarakat ke pemerintah. Karena itulah pers disebut sebagai pilar keempat demokrasi. Namun, ia menilai pola tersebut mengalami perubahan besar di era digital. Kepercayaan publik terhadap pers menurun seiring menjamurnya media sosial yang bebas, bahkan kerap menggeser posisi pers sebagai sumber utama informasi.
“Sekarang muncul pertanyaan, kepada siapa kita harus percaya?. Media sosial berkembang tanpa batas, sementara posisi pers sebagai penjaga kualitas informasi semakin terdesak,” kata Komaruddin.
Ia menyoroti tantangan ketika pers menjadi bagian dari bisnis dan berhadapan dengan ambisi politik. Dalam situasi tertentu, peran pers dapat tergeser oleh buzzer dan kepentingan kelompok tertentu yang memanfaatkan media sebagai alat agenda. Karena itu, ia menekankan pentingnya refleksi bersama, yaitu apa yang perlu dipertahankan, ditinggalkan, dan diadopsi ke depan.
“Pers tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah, masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan komunitas pers perlu melihat pers sebagai bagian dari orkestrasi bersama. Media sosial memang sulit dikendalikan, tetapi komitmen kami di Dewan Pers adalah memastikan nilai-nilai profesionalisme dan etika tetap dipantulkan kepada masyarakat,” pungkasnya.
















