Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Ahmad Bambang, mengatakan Premium diperkirakan naik 18% dari rata-rata harian normal 76 ribu KL menjadi 89 ribu KL. Adapun Avtur naik 10% dari rata-rata harian normal 11 ribu KL menjadi 12 ribu KL. Sedangkan LPG naik 4% dari rata-rata harian normal 19.700 MT menjadi 20.500 MT. Semetara itu, Solar turun 11% dari rata-rata harian normal 37 ribu KL menjadi 33 ribu KL.
“Rata-rata ketahanan stok selama Bulan Puasa hingga Lebaran, untuk Premium 19 hari, Solar 22 hari, Avtur 26 hari, Pertamax 26 hari, Pertamax Plus 37 hari, dan LPG 17 hari,” papar Bambang, Selasa (17/6).
Bambang menambahkan, konsumsi BBM setiap musim Puasa dan Lebaran memang selalu meningkat. Oleh karena itu, Pertamina pun rutin melakukan penambahan stok. Hal ini menurutnya untuk mengantisipasi kelangkaan di kalangan masyarakat.
Selain meningkatkan stok, upaya pencegahan kelangkaan juga ditempuh Pertamina dengan membentuk Posko Satuan Tugas (Satgas) pemantauan ketersediaan BBM dan LPG. Satgas ini juga memainkan peran untuk memonitor kesiapan pelayanan kepada masyarakat. Bambang menyebut, kegiatan monitoring itu dilakukan oleh tim satgas di Kantor Pusat dan setiap kantor Region Pertamina.
Bambang mengatakan, pihaknya serius dalam menjamin kelancarandistribusi BBM dan LPG. Oleh karena itu, mekanisme monitoring pun tak hanya bertumpu pada kinerja Satgas. Ia menyebut, Pertamina telah menggunakan komputerisasi Sistem Informasi Management Supply & Distribution. Tak hanya itu, pengoperasian Terminal BBM, SPBU, dan SPBBE dibuat menjadi 24 jam.
“Pemantauan ini utamanya kami lakukan di sepanjang jalur mudik utama, yaitu jalur Pantura, Tengah, dan Selatan Jawa, di Banyuwangi untuk penyeberangan menuju Bali, dan Merak menuju Sumatera,” imbuhnya.
Kendati konsumsi BBM dan LPG diperkirakan melonjak, Bambang menuturkan perusahaannya tak akan menaikan harga, terutama jenis Premium. Pasalnya, menurut Bambang, jika BBM dinaikkan maka beban masyarakat akan semakin bertambah. Menurutnya, hal ini lantaran selama Ramadan harga kebutuhan pokok juga meningkat.
"Menjelang Ramadan dan Lebaran, tidak ada kenaikan harga premium. Kasihan masyarakat, jika kita naikan. Bebannya akan bertambah, apalagi kebutuhan pokok juga akan naik,” tuturnya.
Keputusan menaikan atau menurunkan harga, ujar Bambang, kini bergantung pada harga pasar dunia. Ia mengatakan, saat ini harga minyak dunia cenderung turun. Oelha karena itu, tak ada alasan bagi Pertamina untuk menaikan harga BBM.
Menjelang Lebaran pun, menurut Bambang, perusahaannya belum berencana untuk menaikan harga. Ia menegaskan, sejatinya kewenangan untuk menaikan harga bergantung pada kebijakan pemerintah. Hingga saat ini, ia mengaku belum ada arahan untuk menaikan harga.
"Itu wewenang pemerintah, saya belum tahu karena belum ada informasi," tukasnya.
















