Menurutnya, kalau semua dikenakan tarif tinggi, selain jadi mahal, barangnya juga makin sedikit dan kurang beragam. Ia mengutip studi dari Amiti, Redding, dan Weinstein yang menunjukkan bahwa keberagaman produk menyumbang sekitar 50% dari pertumbuhan ekonomi AS. Oleh karena itu, penurunan ragam produk bisa berdampak besar terhadap penurunan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.
“Poin-poin ini yang kemudian masih nggak dikejar, nampaknya oleh Trump berusaha mencapai trade balance dengan semua negara, ini simply nggak make sense,” ucapnya.
Selain itu, Direktur Utama PT KGI Sekuritas Indonesia, Antony Kristanto, menambahkan gejolak perang dagang ini semata-mata karena AS tidak mau China menjadi negara dengan ekonomi terbesar. Adapun dampaknya tidak hanya mengganggu rantai pasok global, tetapi juga menciptakan ketidakpastian yang mempengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga AS ke depan.
Ia juga menyoroti perhitungan tarif AS yang dianggap tidak berbasis data ekonomi yang akurat. Perhitungan tersebut, kata dia, menggunakan parameter elastisitas impor dan substitusi yang tidak mempertimbangkan karakteristik spesifik dari produk masing-masing negara.
“Kalau orang bilang ini dagelannya mereka, dagelannya US tidak ada dasar ekonomi sama sekali,” tegasnya.
Terkait dampak ke Indonesia, Antony menyebutkan bahwa sektor-sektor yang terkena tarif AS antara lain mesin perekapan elektronik, pakaian dan aksesori, serta lemak dan minyak nabati. Meski demikian, ia menilai efek langsung terhadap pasar saham Indonesia relatif terbatas karena sebagian besar perusahaan terdampak bukanlah market mover utama.
Di sisi makro ekonomi, Antony memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih akan bertahan di kisaran 5,2 persen, meski target ambisius 8 persen kemungkinan besar sulit tercapai. “Jadi boleh dibilang bahwa kita untuk GDP di tahun ini mungkin kita tidak seperti yang kita harus takutkan ya,” katanya.
















